19 January 2015

LEWAT SKY BRIDGE DI BUKIT BANGKIRAI

Ini bukan cerita traveling yang seru, yang penuh dengan perjuangan, yang harus nyasar, yang harus struggle ber-survival. Yang harus minum air dari akar pohon atau mengunyah dedaunan.

Bukan. Ini cerita perjalanan yang nyaman-nyaman aja. Tapi seru bagi kami, karena tanpa rencana dan persiapan. Just think and go. Terlebih, ini destinasi baru buat kami.

Pagi yang basah di hari bersejarah, 17 Agustus 2014. Hujan semalam menyisakan hawa dingin. Ini hari libur kantor, tetapi sepagi itu aku harus tetap bangun dan buru-buru mandi, karena aku harus jemput boss di Hotel Le Grandeur Balikpapan dan mengantarkannya ke Bandara Sepinggan buat balik ke Semarang.

Mobil ada di kantor, sementara hujan sudah reda beberapa saat lalu. Jadi aku nggak perlu kehujanan karena aku naik motor. Sesampai di kantor teman-teman sudah sampai duluan. Oke, aku panasin mobil sebentar terus langsung cabut.

Cie cie... yang selfie bareng....
Jadwal penerbangan bossku masih cukup lama. Jadi, di Le Grandeur kita masih sempet foto-foto sebentar sambil menunggu boss siap di lobby.

Ibu Nadia (Direktur Marketing kantorku, yang aku maksud bossku tadi) sudah siap berangkat. Jadi, lanjut ya...
Jalan ke bandara lengang banget. Pemandangan yang banyak aku temui adalah: Upacara Bendera di halaman banyak kantor. Dalam hati aku juga ikut menyanyikan Indonesia Raya dengan penuh hikmat dan patriotik.

Nah, sampai di Bandara kita antar Bu Nadia check in, foto-foto bentar (fotonya pake smartphone, jadi nggak ada di kamera mirrorless-ku, yang artinya nggak ada di sini.....), terus kita pamitan buat cabut. Maaf ya Bu Nadia, kita nggak bisa tungguin sampai take off dan berdadah-dadah...

Now what....? Kita emang punya rencana buat jalan-jalan bareng. Tapi ke mana? Itu yang belum dipikirin. Sampai tiba-tiba kami berteriak bersama : "Bukit Bangkirai..... we're coming...." Yeay!

"Eh tapi, kalau kita mau ke Bukit Bangkirai, kita musti balik ke kantor dulu nih..." kataku. Yup, kita harus jemput "Si Kepo". Kalau kita nggak ajak dia bisa ngambek nanti. Akhirnya aku belokkan stir mobil, putar balik jemput Si Kepo.

Si Kepo itu OB di kantorku. Aku juluki dia dengan panggilan Si Kepo (meskipun aku nggak pernah manggil dia dengan sebutan itu) bukan karena dia banyak tanya dan mau tau aja, tetapi dia sering memakai kata "kepo" dalam keseharian meskipun dia nggak ngerti bener apa artinya.

Oiya, aku jadi lupa kenalin siapa aja teman-temanku dalam trip kali ini. Yang pertama: Ully, Marketing dari Kantor Pusat C Radio di Semarang yang lagi ditugasin di C Radio Balikpapan. Terus yang ke-dua: Lia, temen kantor di jam kerja dan berubah jadi pendamping hidupku kalau di rumah. Terus yang terakhir: Hendra, anak magang, yang sebenarnya pemilik mobil yang aku bawa ini, tetapi nggak bisa nyetir, jadilah aku sopir dalam perjalanan ini :(

Nah, untuk si Hendra ini aku juga punya julukan khusus, yaitu: "Si Rempong". Alasannya ya karena metroseksualnya dia nggak mau berpanas-panasan, apalagi kotor-kotoran. "Takut jadi item, entar repot perawatannya." katanya begitu. Tapi heranya sudara-sudara.... dalam perjalanan ini dia malah pake kolor basket.... lat aja foto yang lagi selfie di atas.

Si Rempong ini juga punya ritual begini: sebelum naik motor, dia buka dulu jok motornya, ambil lap kanebo di bawah jok, terus dilaplah kaca helm, jok motor sama lampu depannya. Baru dia naik motor dengan gaya elegan. Rempong abis :D

Oke lanjut cerita travelingnya.
Jangan ketawa ya kalau aku bilang pemandu jalannya Si Rempong....!! Karena dia kan lahir di Balikpapan, jadi mustinya hafal jalan utama sampai jalan tikus. Ternyata dia masih dipandu lagi sama temannya. Jadi di mobil dia bolak-balik telponan sama temennya yang aku dengar katanya lagi tidur.... Kocak abis....

"Pokoknya di Jalan Soekarno Hatta arah Samarinda." katanya.
"Oke Ndra... ini kan kita udah di Soekarno Hatta. Kilometer 38 kan tempatnya?"

Jalanan masih lengang. Di Kilometer 5 sekitar Pasar Butun yang biasanya macet aja lancar banget. Oke kita lanjut terus... Kilo 5, 6,7. Di Kilometer 8 Si Kepo nunjuk sebuah jalan masuk di kanan jalan. "Rumahku masuk jalan itu." Cuman itu doang pembicaraan pertama dia. Sebelumnya mojok lewat HP. Habis ngmong gitu, mojok lagi.

Kilo 10, 11.... 15. Tiba-tiba Si Rempong berteriak "Masuk ke kanan Pak...! Iya, masuk kanan, pas di sebelah Pos Polisi itu....!"
"Lah bukannya ini baru Kilo 15? Kan harusnya di Kilo 38...?" Kataku sambil nurut aja belok ke kanan dan masuk ke sebuah jalan.
"Iya, kata temenku, masuk di sebelah Pos Polisi." Katanya antara yakin dan enggak. Sampai ada gerbang bertuliskan : KONSERVASI BERUANG MADU"

What....!!!!

"Putar balik Pak...! Bukan di sini Bukit Bangkirai itu..." Katanya dengan innocence.

Alhamdulillah, sampailah kita di Kilo 38. Jalan pelan-pelan sambil cari penunjuk jalan yang akhirnya ketemu juga. Belok kiri, sambil tengak-tengok dari kaca spion aku lihat ada sebuah bangunan di seberang jalan. POS POLISI. Yang ini kali yang dimaksud teman kamu Ndra...

Dari Jalan Soekarno Hatta Kilometer 38 Poros Balikpapan - Samarinda, perjalanan ke Taman Wisata Bukit Bangkirai masih 10 kilometer lagi. 10 kilometer yang terasa jauh, karena jalan yang sempit, berliku, naik turun dan berlubang di sana-sini. Nggak off road sih, tapi cukup membuat kaki kiriku pegal menginjak pedal kopling. Baru setelah gerbang pertama agak masuk ke dalam, aku nggak bisa membayangkan bagaimana kondisi jalannya kalau musim hujan. Untung saat itu musim kemarau.
Gerbang Ke-2 Bukit Bangkirai

Nah, di sebelah ini gerbang ke-2 Kawasan Wisata Alam Bukit Bangkirai. Masuk wilayah Kutai Kartanegara. Dari sini, kawasan wisatanya sudah dekat. Kalau dari gerbang pertama tadi, jaraknya cukup jauh menuju gerbang ke-2 ini. Sebagian jalannya juga jalan tanah naik turun yang pastinya licin saat hujan. Tapi itu kondisi pada Agustus 2014 lho ya....

Oke, kita sampai. Di halaman parkir ada semacam pendopo gitu, di situ kita bisa beli tiket untuk naik ke "Sky Bridge", ada juga beberapa bungalow dan tempat makan. Tempat ini dikelilingi hutan Kalimantan.
Nggak jauh dari tempat parkir, ada tangga menurun. Dari sini penjelajahan ke dalam hutan menuju Sky Bridge dimulai dengan jalan kaki. Di tangga ini kita foto dulu yach....
Sebelum Tracking

Di sini juga ding... Soalnya ada jembatan kecil yang tropis abis tampangnya.

Selepas jembatan ini kita mulai tracking menelusuri salah satu track dari beberapa track yang tersedia. Instingtif, kami memilih track yang paling pendek untuk mencapai Sky Bridge. Track Djamaludin, Track II sepanjang 300 meter.
Track Djamaludin (Track II) 300 meter

Jalan setapak di sela-sela tingginya pepohonan yang tajuknya menyerupai atap. Bebarapa pohon bangkirai yang sudah lama tumbang melintang di jalan, beberapa di antaranya dipotong bagian tengahnya seukuran jalan setapak agar kami tak perlu repot-repot memanjat badan pohon yang melintang. Meskipun rebah, aku yakin perlu perjuangan khusus untuk melaluinya karena begitu besar diameternya.

Di kiri kanan bersuluran rotan hutan dengan duri-duri tajamnya. Sementara tanah gambut yang kami pijak menyisakan jejak tapak yang berdebu. Tanah jenis ini membuatku takut untuk merokok, karena takut terjadi kebakaran.

Dan mungkin dalam track ini aku harus melupakan dulu untuk merokok. Bukan apa-apa, track menanjak ini membuat degup jantung semakin memburu, napas tersengal dan lutut gemetar. Boro-boro merokok.

Kalau udah gini, aku ngerasa waktu itu nggak adil. Saat seperti ini, waktu hanya berpihak pada mereka yang berusia muda. Waktu memberikan si usia muda mampu berlari-lari kecil di antara tonjolan akar-akar yang melintang jalan membetuk tangga. Sedangkan aku harus melaluinya setapak demi setapak.

Tapi kupikir, waktu memberikan kesempatan buat si pria muda untuk menjadi hero buat perempuannya. "Capek dik...? Mau abang gendong...? Atau abang dorong sini...." Aiiiih....

Sedangkan aku: "Bentar, istirahat dulu yuk.... Napasku mau copot ini...." Beugh...

Bangkai Pohan Bangkirai
Padahal dulu, aku pernah naik gunung. Gunung Slamet. Walaupun nggak sampai kawahnya gara-gara aku tertahan di pos terakhir sebelum puncak lantaran muntah-muntah angin karena hypotermia.
Atau pernah juga jalan kaki ratusan kilometer dari childhood village sampai ke Pegunungan Dieng pulang pergi. Iya, jalan kaki.


Dengan penuh perjuangan, sampailah kami di Sky Bridge. Ully, Kepo dan Rempong sudah duluan nyampe di sana sambil berfoto-foto.
Nah, Sky Bridge sendiri adalah jambatan gantung yang terhubung dari satu pohon ke pohon yang lain. Ada tiga bentangan. Kata penjaga area ini, tingginya sekitar 40 meter dari permukaan tanah. Untuk naik ke jembatan ini, disediakan tangga yang nyaman untuk dinaiki. Bentuknya seperti tangga rumah yang menghubungkan lantai bawah menuju lantai di atasnya.
Begini nih tampangnya....
Tangga Ke Sky Bridge
Dari pohon yang ini, kita menyeberang ke pohon yang lain melewati jembatan yang tergantung dari pohon ke pohon. Mendingan lihat ke depan deh kalau ngeri lihat ke bawah.
Ayo Ully.... Kamu bisa...!
Meskipun lutut gemetar, urusan nyali ternyata aku cukup bisa berbangga. Buktinya tanpa gemetar (dikit sih...) aku dengan gegap gempita menyeberang sky bridge tanpa ragu. Sementara anak-anak muda itu harus diyakinkan dulu buat menyeberang. Ha... Ha... Ha... *sombong.

Tepi serius, saat berdiri di area batang pohon yang berpagar itu rasanya ragu buat melangkah ke jembatan. Apalagi ketika langkah pertama menjejak jembatan rasanya ngilu di perut.
Gimana enggak, kaki yang menjejak berayun turun menopang berat badan kita. Terus berayun naik turun mengikuti langkah dan terombang-ambing kanan kiri tertiup angin. Tambah ngilu... *pengen pipis.
Apalagi kalo ada yang jail menggoyang-goyang jembatan. Untung aku nggak dijailin, tapi sebaliknya aku yang jailin mereka...:D
Oiya, dalam perjalanan ke sini menjelang gerbang ke-2 kami ketemu mas-mas goweser sendirian naik sepeda. Sendirian lagi. Kupikir mau cross country atau tersesat kerana terpisah dari rombongannya.
Nggak taunya, kita ketemu lagi mas-mas goweser ber-bandana dan berjenggot di puncak sky bridge. Oalah... ternyata kita punya tujuan yang sama. Nih orangnya....

Sayang aku lupa namanya. Jadi nggak bisa nge-tag tulisan ini ke dirinya. Tapi yang jelas, setelah ngobrol-ngobrol ternyata dia bersepeda dari rumahnya di Muara Rapak.
Buseeet... Itu kan di Kilometer Nol. Kebayang capeknya perjalanan sampai sini. Dari Muara Rapak sampai ke Kilometer 38, belum lagi masuk hutan ke Bukit Bangkirai. Belum lagi ngebayangin pulangnya...

Mungkin Si Mas ini waktu berpisah dengan kami jadi pengen punya Pintu Kemana Saja pinjem dari Dora Emon.
"Atau mau abang gendong...?" Lho....!!!

Ya udah dech mas... Kami cuma ikut mendoakan supaya selamat sampai tujuan. Hehehe...

Nah, setelah puas mondar mandir dari satu pohon ke pohon yang lain (pastinya yang terhubung sky bridge ya... emangnya kita monyet...), dari bawah sudah diteriakin sama penjaga pake megaphone.

Katanya gini: "Yang sudah sampai di atas, segera turun...! Di atas menara jangan lebih dari 8 orang...! Jangan terlalu lama di atas, jangan merokok, jangan buang sampah....! Dilarang melukis... karena kalau melukis berarti akan lebih lama lagi di atas."

Kami tertawa dari atas Pohon Bangkirai yang menjulang. Keren yach.....?

Ya udah deh kita turun. Dibawah sempat lagi lihat ke atas. Wuih.... tadi kita ada di atas sana...?
Lalu berdebat pulangnya ke tempat parkir mau lewat track yang mana.
"Yang jauhan dech... Kan pulangya nggak nanjak." Nggak tahu siap yang punya ide asem kayak gitu. Yang jelas aku terus aja jalan tanpa peduli. Ya, lewat track pendek tadi. Lah, dipikirnya lutut nggak sakit menahan berat badan tambun ini menuruni track?

Baru di sini kita sadar bahwa persiapan buat trip ini nggak matang samasekali. Entah kenapa nggak ada yang kepikiran bawa air minum. Padahal di kantor ada berkardus air mineral gelas. Atau beli kek beberapa botol di warung.
"Mana ada warung di hutan gini...?" Kata Si Rempong.
"Berangkatnya dodoooll..." Jawabku.
Atau bawa galon sama dispensernya sekalian. Liar sekali pikiran kami saat kehausan.

Akhirnya kita puasin minum di cafetaria dekat tempat parkir. Ada yang mau pesen makan juga. Lia yang sehari-harinya ngurus duit kontan melarang, "Nanti aja di kota, takut mahal..." Bah....!

Oke, kita pulang......
Ully sempet bilang, "Mas, kalo capek nyetir, gantian sini aku yang nyetir."
Aku yang sudah sumringah mendengar tawaran menarik ini dan membayangkan nyamannya tidur dalam perjalan pulang mendadak jadi kecut gara-garanya ada suara: "No... no... no....!!!" dari Si Rempong. Nasib....

Sampai di Balikpapan kita makan Soto Banjar di Pasar Klandasan dan kemudian makan buah unik yang kita beli dalam perjalanan pulang tadi.
Ini dia buahnya.....
Buah Elay khas Kalimantan
Beberapa orang menyebutnya Durian Emas
Kemana lagi kita jalan guys.....??