15 May 2015

Anggrek di Pulau Flores

Kupu-kupu masih beterbangan di seputar kepalaku. Berputar riuh, membuatku semakin pening. Bukan mabuk laut aku yakin, aku hanya kurang tidur agaknya meskipun gelombang selat Sape siang itu membuatku mual. Saat aku beringsut mengambil botol minum di backpack-ku, aku melihat kamu masih di situ. Di samping dek yang terbuka, dekat sekoci.

Urung tanganku meraih botol air mineral saat sejurus kamu menoleh, menatapku sesaat dan tersenyum sebelum matamu kembali menatap gugusan bukit yang menyembul dari dasar laut sebagai pulau kecil. Kulihat angin laut mempermainkan helai-helai rambutmu yang sepanjang bahu. Mengibaskannya ke sana ke mari hingga tampak leher jenjangmu. 

Dinihari tadi, saat bus yang aku naiki semenjak dari Denpasar dua malam sebelumnya sampai ke akhir perjalanannya di Bima, aku baru menyadari betapa angkuhnya aku terhadapmu. Ya, aku ingat kamu naik bus yang kutumpangi dari Mataram dan duduk di sebelahku, satu-satunya bangku yang masih tersisa. Waktu itu aku hanya melirikmu sekilas, lalu mataku kembali ke lembar-lembar buku yang menemaniku sebelum bus kembali berangkat.

"Masih lamakah kita sandar di Labuan Bajo? Tanyaku sambil melangkah di sampingmu di dinding dek dekat sekoci. Kamu menggeleng. Sambil tersenyum kamu bilang, "Entahlah... menurut nyong itu masih sekitar tiga jam lagi."

"Hemm... bisa mati bosan aku di atas fery ini..." Sudah lima kali aku menyeberangi selat semenjak dari Surabaya. Dari Ketapang - Gilimanuk, Padangbai - Lembar, dua selat di NTB yang aku lupa namanya sampai ke Sumbawa, dan terakhir Sape - Labuan Bajo yang meskipun gelombangnya tak seganas Padangbai - Lembar tetapi kurasa Selat Sape ini misterius.

Dan kamu masih tersenyum melihat aku gusar. Lalu kamu tertawa kecil. "Nyanyian kamu bagus" katamu. "Aku terkesan sekali waktu kamu ikut bernyanyi dengan pengamen di Bima pagi tadi. Kukira kamu punya cerita tentang lagu itu, lagumu penuh perasaan."

"Ah, biasa saja. mungkin karena terbawa jiwa yang sedang sepi."
Dan lagi-lagi kamu tersenyum. Tahukah kamu, aku telah jatuh simpati denganmu sesaat setelah aku mandi dan menyeruput kopi di terminal kota Bima. Saat itu kamu duduk di bangku bus kecil yang baru akan berangkat dua jam lagi, selepas Subuh. Wajah kamu tak muram, tapi juga tak ceria. Ya, tenang seperti telaga. Saat itu, aku ingin di sisimu. Menggenggam tanganmu. Aih... betapa tololnya aku kalau saja hal itu aku lakukan. Pasti kamu mengira aku sedang bermain drama, opera atau acting roman picisan. Tapi sejujurnya, hasratku bicara seperti itu.

Maka, seandainya saja kau tahu, lagu "Pandangi Langit Malam Ini" dari Jikustik yang aku nyanyikan itu, yang diiringi pengamen yang juga bersuara merdu itu, adalah tentang kamu.

"Kok ngelamun sih...?" Tiba-tiba kamu mengagetkanmu. Duh, bagaimana bisa aku melamunkan perempuan yang sedang ada di sampingku, lalu aku disadarkannya pula olehnya?

"Nggak, aku lagi berpikir aja. Apa yang di benak manusia-manusia yang terayun-ayun gelombang dan kantuk di atas kapal fery ini? Mau kemanakah mereka? Apa yang akan mereka lakukan di tanah Flores nanti?"

"Kamu sendiri, mau kemana sesampainya di Flores nanti?"

"Entahlah, agaknya aku harus ke Ende."

"Ende? Kamu mau menziarahi pengasingan Bung Karno atau ke Danau Tiga Warna?" tanyamu sambil berkerut bingung.

"Aku mau ke Kupang. Menurut ABK, kalau mau ke Kupang harus menyeberang lagi dari Ende."

"Hahaha.... Ya Tuhan... nyebrang lagi? Tak ada puas-puasnya kamu menyeberang." 
Dan aku serasa bodoh di hadapanmu, tetapi aku senang, setidaknya kamu memperhatikanku. Akupun ikut tertawa terbahak-bahak hingga bule backpacker yang tengah lelap di balik topi rimbanya terbangun dan melirik sinis ke arah kita. 

Meskipun ingin, sejak bis berangkat menuju pelabuhan Sape lepas Subuh tadi, aku tak kuasa mengajakmu berbincang. Kita berdua, yang juga duduk bersebelahan lebih memilih untuk memperhatikan cidomo yang hilir mudik di jalanan kota Bima. Dan sekarang, saat daratan Flores sayup-sayup terlihat, aku baru bisa bicara dengan kamu. Ah, kenapa tak sedari tadi?

"Hei... Om Willy...!!! Tolong bawa sahabat beta ini ke Ende...!!!" Demikian teriak ABK kepada sopir bus yang berjajar tak jauh dari dermaga sesaat setelah fery sandar.

Sore itu, kita masih bersama dalam bus yang akan membawa kit ke Ende di ujung Flores. Ya, selama lebih dari duapuluh empat jam kita bersama menelurusuri bukit, lembah dengan tebing di satu sisi dan jurang di sisi lainnya. Terkadang kepala kamu bersandar di bahuku, tertidur. Lalu pagi menyapa kita di Ruteng dengan udara dingin, savana, gereja di tengah padang rumput, juga babi-babi yang menyeberang jalan sesekali. Siang yang kita nikmati bersama birunya laut yang bersih dan bebatuan juga pasir putih di bibir pantainya.

Selama itu juga kita lebih banyak diam. Dan aku tak juga tahu nama kamu. Hanya tangan kamu yang sesekali merengkuh lenganku saat tertidur di pundakku. Trenyuh. dan bagi kita itu lebih dari cukup. Terus begitu hingga akhirnya sampai di kota Ende.

Dengan angkot yang di sana dipanggil taksi, yang di dalamnya berdebam sound system yang memainkan house music atau lagu-lagu cengeng khas Obbie Mesakh dan Pance kamu antar aku ke Puskip, Pelabuhan Ende yang sampai sekarang aku tak paham apa makna Puskip itu.

Kapal Kirana 2 dari Ende ke Kupang akan berangkat hari Selasa jam 21.45 WITA. Astaga.... itu berarti tiga hari lagi. Dan kamu tersenyum sambil menggandengku ke sebuah tempat. Hotel, tempatku harus menginap untuk tiga hari ke depan.

Hotel yang paling besar di Ende saat itu, tetapi dengan pelayanan ala homestay yang ketika aku meminta TV, digotonglah TV entah dari ruang mana. Dan, tiga hari itu aku hanya ditemani TV hitam putih dengan satu-satunya siaran yang bisa ditangkap. TVRI.
Ya, aku sendiri, tanpa kamu.

Aku hampir menangis saat kamu tinggalkan aku di lobby hotel. Kamu bilang, "Terimakasih sudah menjadi bagian dalam perjalanan ini. Mmmm... bukan hanya di perjalanan ini, tetapi perjalan hidupku."
Aku kehilangan mata elang itu, hidung yang selalu ingin kucubit itu, bibir yang selalu tersenyum yang ingin kubasahi dengan bibirku. Dan yang pasti, aku kehilangan damai itu. Semua itu dari kamu. Tuhan, kenapa aku harus jatuh cinta...?

Malam terakhir di hotel senyap ini, saksi dari rindu dendamku, senyum tangisku terhadapmu. semua membekas, begitu lekat. Tapi bodohnya, aku tak punya jejak apapun tentang kamu. Ah, seharusnya aku tak perlu sok angkuh, sok kuat, sok dewasa. Karena saat ini aku seperti anak-anak, yang tersedu ditinggal ibunya ke pasar.

Pintu kamar diketuk, mengabarkan bahwa ada telpon untukku dari seseorang  yang tak jelas kudengar siapa namanya.

"Halo.... Dengan Ombak...?" kata seseorang di ujung telpon. 

"Ya, betul... saya sendiri."

"Baik-baik kamu di perjalananmu ke Kupang yah, ingat beberapa jam lagi kapalmu berangkat. Terimakasih sudah bersamaku beberapa hari lalu. Jangan sampai lupa sama aku. Hati-hati yah...!"

"Hei... bagaimana aku bisa lupa sama kamu...? Dan, bagaimana kamu tahu namaku? Bukankan kita tak pernah kenal nama...?"

"Hahaha.... Apa susahnya tanya ke resepsionis hotel?" kamu tergelak.

"Kenapa kamu nggak temani aku di sini?"

"Karena, kalau aku temani kamu, aku akan musnah. Aku peri pelindungmu. Kamu sudah aman sekarang. Simpan nomorku yah, aku titipkan ke petugas hotel. Jaga diri  kamu..."

KLIK....!

Aku termangu. Petugas hotel yang menghampiriku meletakkan secarik kertas dan mengangguk hormat ke arahku. Masih tak aku hiraukan.

"Siapa nama perempuan yang menelpon saya tadi...?" tanyaku ke resepsionis.

"Ibu Anggrek."

*** 
Kapal Kirana II perlahan meninggalkan pelabuhan Ende di Flores. Di buritan aku termenung menekuri lembar kertas yang diserahkan petugas hotel tadi.

Tertulis di situ : 021xxxxxxx

Jakarta.... entah kapan dapat kutemui Anggrek di sana. Kini aku tahu, mungkin dia benar peri pelindungku. Dia akan musnah jika bersamaku. Seperti anggrek yang dibuang oleh pohon induk semangnya. Mati karena hal yang tak pasti. Maka kamu memilih untuk tetap tumbuh di pohon itu, sementara warna indahmu kamu bagikan kepadaku.

Di buritan kapal kupandangi gemintang di langit. Mungkin di saat yang sama entah di mana kamu menatap langit yang sama. Langit malam ini.

"...................bila kau rindukan aku Putri, coba kau pandangi langit malam ini
bila kau tiada cukup mengerti, cobalah kau hirup udara pagi, aku di situ..................."

02 March 2015

Konser Musik Bergizi Di Balikpapan

CATATAN DARI JAVA JAZZ 2015 PRE EVENT DI BALIKPAPAN

Peak Performance Java Jazz 2015Pre Event Balikpapan
Malam yang sangat berkesan, ketika panggung jazz berskala internasional hadir dan memenuhi kehausan pecinta jazz di Balikpapan akan ajang apresiasi musik jazz.

27 Pebruari 2015, sederet musisi jazz perform di panggung Java Jazz 2015 Pre Event di Grand Mahakam Ballroom Swiss-Belhotel Balikpapan. Mereka adalah Trie Utami, Nita Aartsen, Donny Suhendra, Indro Hardjodikoro, M. Iqbal, Yeppy Romero serta dua musisi dari Italia (Danielle Cappucci dan Marcello Allulli) dan Israel Varela dari Mexico. Itulah kenapa konser jazz ini menjadi berskala internasional. Ya, karena ada tiga musisi internasional itu tadi.

Lebih dari sebulan sebelumnya, Bang Jay (Ahmad Jailani) sang ketua Balikpapan Jazz Lovers (BJL) menemui saya dan mengabarkan berita gembira, dimana Balikpapan melalui BJL mendapatkan kepercayaan untuk menggelar Pre Event Java Jazz 2015. Sebagai pecinta jazz dan host program C Radio Jazz Corner tentu saja saya menyambut dan mendukung dengan sepenuh hati.

Saya sempat tanya kapada Bang Jay, kenapa Balikpapan dipercaya oleh Java Festival Production untuk menyelenggarakan event ini. Ah, mungkin karena aktifitas jazz di Balikpapan cukup intens. Seperti dikirimnya musisi jazz Balikpapan untuk tampil di panggung Java Jazz beberapa tahun yang lalu, juga di beberapa ajang jazz lainnya.

Ya okelah... Memang sebagai warga Balikpapan sudah seharusnya merasa bangga, karena Balikpapan terpilih menjadi salah satu kota penyelenggara Pre Event Java Jazz 2015 selain lima kota lainnya seperti : Medan, Bandung, Malang, Jogjakarta dan Semarang. Dan Balikpapan adalah kota pertama di Kalimantan yang mendapat kepercayaan untuk itu. Very nice...

Press Confrence
Dalam sesi konfrensi pers pagi hari di Barito Lounge Swiss-Belhotel menjelang konser malam harinya, Nita Aartsen sempat menjelaskan formasi yang bakal perform. Di antaranya ada Donny Suhendra, Indro Hardjodikoro dan M Iqbal. Formasi kedua ada Israel Varela, Nita Aartsen dan Danielle Capucci serta disusul oleh Marcello Allulli. Formasi selanjutnya ada Donny Suhendra dan Yeppy Romero serta Donny Suhendra, Indro Hardjodikoro, Nita Aartsen, M. Iqbal dan vokalis Trie Utami.

Malamnya, Mahakam Grand Ballroom Swiss-Belhotel Balikpapan dihangatkan oleh RSKD Band sebagai Band Pembuka. RSKD Band sendiri adalah band yang cukup unik di Balikpapan. 
RSKD Band
Keunikan pertama, RSKD Band yang merupakan inisial dari Rumah Sakit Kanujoso Djatiwibowo memang digawangi oleh para dokter senior dan tenaga medis dari rumah sakit ini.

Keunikan kedua, RSKD Band bisa dikatakan sebagai mini big band, dimana dalam formasinya dilengkapi juga dengan brass section dan string section.

Sebagai band pembuka, RSKD Band memainkan empat nomor jazz yang sudah sangat familiar bagi pecinta musik dan jazz lover yang hadir malam itu.

Donny Suhendra & Indro Hardjodikoro
M. Iqbal














Setelah itu, Donny Suhendra dan Indro Hardjodikoro dan M. Iqbal langsung menggebrak dengan komposisi dari Chick Corea dan Jon Coltrane. Komposisi jazz standard yang langsung membangun nuansa jazz. Bagi pecinta musik yang mengalami era remaja tahun 80-90an, siapa yang tak kenal dengan Donny Suhendra? Gitaris yang membawa warna tersendiri dalam Krakatau juga Adegan.
Juga Indro Hardjodikoro yang awal karirnya bersama Halmahera selalu dekat dengan Tohpati. Lalu banyak project Indro berkolaborasi dengan banyak musisi kenamaan, bahkan musisi internasional seperti Kenny Garret, Michael Colina, Dave Koz, Michael Lington dan lain- lain.


M. Iqbal, drummer putra asli Samarinda yang mengatur beat dengan pukulan yang dinamis dan powerful mengiringi petikan gitar Donny Suhendra yang penuh improvisasi yang membikin terbelalak serta cabikan bass Indro Hradjodikoro yang dimainkan dengan kalem tapi berenergi dan penuh ekspresi.
Yeppy Romero & Donny Suhendra
Sementara M. Iqbal dan Indro Hardjodikoro turun, tampil kemudian Yeppy Romereo. Bermain bersama Donny Suhendra, Yeppy Romero memainkan nomor-nomor dinamis Flamenco yang menjadi karakternya dalam bermain gitar.

Komposisi seperti Spain dan Mediteranian Sundance dibawakannya berdua secara atraktif dengan diselingi inprovisasi dan battle di dalamnya. Serius, mereka seperti dewa.

VAC (Varella, Aartsen, Capucci)

Tampil berikutnya, ada VAC (Varella, Aartsen, Capucci). Indeed, mereka adalah Israel Varella yang bermain drum, lalu Nita Aartsen yang memainkan keyboard dan Danielle Capucci yang mengusung cello sebagai alat musik yang dimainkannya. 

String cello yang dibetot dan sesekali digesek serta dipadu dengan denting suara piano dan drum menciptakan harmoni yang apik sekaligus epic dalam komposisi seperti Quatro kemudia komposisi milik Nita Aartsen, milik Israel Varella dan milik Danielle Capucci.
VAC Featuring Marcello Allulli
Menyusul kemudian Marcello Allulli denga tiupan alto sax yang menambah harmonis bunyi-bunyian yang dibuat VAC. Allulli sendiri adalah musisi lulusan Berklee College of Music dan merupakan pemain saxophone yang disegani di Italia.

Sementara Danielle Cappucci, bassist yang juga berasal dari Italia mulai belajar bass mulai usia 16 tahun. Pengalamannya bermusik cukup panjang. Pernah bermain dengan Eddy Gomez, Paola Della Porta, Vashion Johnson dan banyak musisi dunia lainnya.

Israel Varella
Sedangkan Israel Varella, drummer dari Mexico yang saat Press Confrence sempat mengatakan bahwa postur dan tampangnya lebih mirip Indonesia ini memiliki karakter langka antara warna Flamenco, Mexico, klasik dan Arab. Varella telah banyak tampil dengan musisi-musisi jazz dunia dari berbagai genre seperti Pat Metheny, Charlie Haden, Bob Sheppard, Andrea Bocelli dan banyak nama lainnya.

Beda lagi dengan Nita Aartsen. Pianis yang mulai belajar piano sejak berusia lima tahun dan menyelesaikan studinya di Moscow Conservatory jurusan Jazz Kontemporer ini pernah lama bermain sebagai musisi istana. Karenanya dia pernah bermain di hadapan Presiden Amerika Bill Clinton dan Pangeran Bernard.


Nah,... balik lagi ke Java Jazz 2015 Pre Event di Balikpapan, di tengah VAC dan Marcello Allulli bermain, Donny Suhendra kembali on stage. Seteleh beberapa komposisi dibawakan, tak lama kemudian Trie Utami muncul ber-scat singing dalam komposisi One Samba dengan formasi Donny, Nita, M. Iqbal dan Capucci. 

Trie Utami yang enerjik dan komunikatif dengan penonton kemudian berdialog dengan Donny Suhendra, karib lamanya di Krakatau. Jujur aja, ada keharuan di situ. Saat mengenang sebuah karya yang tercipta dari tangan Krakatau tahun 1993. Maka mengalunlah Sekitar Kita dalam formasi Capucci digantikan Indro Hardjodikoro. Menyusul kemudian beberapa komposisi termasuk Kota Baru, lagu khas Kalimantan Selatan.
Menutup rangkaian performance, semua musisi naik ke stage dan ber-jam session dan melakukan sesi solo dengan sangat luar biasa.

Yes... ini kali pertama pulau Kalimantan dijadikan sebagai tampat Pre Event Java Jazz. Dan Balikpapan menjadi kota pertama yang ditunjuk untuk menggelarnya. Bangga, tentu saja. Bagaimanapun hal ini menyiratkan Balikpapan menjadi barometer jazz di Kalimantan.

Tetapi, sebagaimana yang dikatakan Trie Utami dalam wawancara eksklusive dengan C Radio 96,2 FM Balikpapan mengatakan, bahwa tidak seharusnya jazz itu menjadi eksklusive, karena jazz pada dasarnya lahir dari ekspresi teriakan marjinal. Karenanya, sekat yang dibangun masyarakat tentang jazz yang begitu eksklusive harus diretas. So, kita tunggu kiprah para apresiator dan musisi jazz untuk menggelar event jazz yang membumi.

Salam Jaz...!!!

** Java Jazz 2015 Pre Event terselenggara atas kerjasama PT Java Festival Production dan     Balikpapan Jazz Lovers.
** Didukung oleh Swiss-Belhotel Balikpapan, Citilink, Pertamina Fastron, Fotografer.Net
** Organized by Tobs Management, Tekabe
** Tribun Kaltim sebagai Print Media Partner
** C Radio 96,2 FM sebagai Radio Media Partner

19 January 2015

LEWAT SKY BRIDGE DI BUKIT BANGKIRAI

Ini bukan cerita traveling yang seru, yang penuh dengan perjuangan, yang harus nyasar, yang harus struggle ber-survival. Yang harus minum air dari akar pohon atau mengunyah dedaunan.

Bukan. Ini cerita perjalanan yang nyaman-nyaman aja. Tapi seru bagi kami, karena tanpa rencana dan persiapan. Just think and go. Terlebih, ini destinasi baru buat kami.

Pagi yang basah di hari bersejarah, 17 Agustus 2014. Hujan semalam menyisakan hawa dingin. Ini hari libur kantor, tetapi sepagi itu aku harus tetap bangun dan buru-buru mandi, karena aku harus jemput boss di Hotel Le Grandeur Balikpapan dan mengantarkannya ke Bandara Sepinggan buat balik ke Semarang.

Mobil ada di kantor, sementara hujan sudah reda beberapa saat lalu. Jadi aku nggak perlu kehujanan karena aku naik motor. Sesampai di kantor teman-teman sudah sampai duluan. Oke, aku panasin mobil sebentar terus langsung cabut.

Cie cie... yang selfie bareng....
Jadwal penerbangan bossku masih cukup lama. Jadi, di Le Grandeur kita masih sempet foto-foto sebentar sambil menunggu boss siap di lobby.

Ibu Nadia (Direktur Marketing kantorku, yang aku maksud bossku tadi) sudah siap berangkat. Jadi, lanjut ya...
Jalan ke bandara lengang banget. Pemandangan yang banyak aku temui adalah: Upacara Bendera di halaman banyak kantor. Dalam hati aku juga ikut menyanyikan Indonesia Raya dengan penuh hikmat dan patriotik.

Nah, sampai di Bandara kita antar Bu Nadia check in, foto-foto bentar (fotonya pake smartphone, jadi nggak ada di kamera mirrorless-ku, yang artinya nggak ada di sini.....), terus kita pamitan buat cabut. Maaf ya Bu Nadia, kita nggak bisa tungguin sampai take off dan berdadah-dadah...

Now what....? Kita emang punya rencana buat jalan-jalan bareng. Tapi ke mana? Itu yang belum dipikirin. Sampai tiba-tiba kami berteriak bersama : "Bukit Bangkirai..... we're coming...." Yeay!

"Eh tapi, kalau kita mau ke Bukit Bangkirai, kita musti balik ke kantor dulu nih..." kataku. Yup, kita harus jemput "Si Kepo". Kalau kita nggak ajak dia bisa ngambek nanti. Akhirnya aku belokkan stir mobil, putar balik jemput Si Kepo.

Si Kepo itu OB di kantorku. Aku juluki dia dengan panggilan Si Kepo (meskipun aku nggak pernah manggil dia dengan sebutan itu) bukan karena dia banyak tanya dan mau tau aja, tetapi dia sering memakai kata "kepo" dalam keseharian meskipun dia nggak ngerti bener apa artinya.

Oiya, aku jadi lupa kenalin siapa aja teman-temanku dalam trip kali ini. Yang pertama: Ully, Marketing dari Kantor Pusat C Radio di Semarang yang lagi ditugasin di C Radio Balikpapan. Terus yang ke-dua: Lia, temen kantor di jam kerja dan berubah jadi pendamping hidupku kalau di rumah. Terus yang terakhir: Hendra, anak magang, yang sebenarnya pemilik mobil yang aku bawa ini, tetapi nggak bisa nyetir, jadilah aku sopir dalam perjalanan ini :(

Nah, untuk si Hendra ini aku juga punya julukan khusus, yaitu: "Si Rempong". Alasannya ya karena metroseksualnya dia nggak mau berpanas-panasan, apalagi kotor-kotoran. "Takut jadi item, entar repot perawatannya." katanya begitu. Tapi heranya sudara-sudara.... dalam perjalanan ini dia malah pake kolor basket.... lat aja foto yang lagi selfie di atas.

Si Rempong ini juga punya ritual begini: sebelum naik motor, dia buka dulu jok motornya, ambil lap kanebo di bawah jok, terus dilaplah kaca helm, jok motor sama lampu depannya. Baru dia naik motor dengan gaya elegan. Rempong abis :D

Oke lanjut cerita travelingnya.
Jangan ketawa ya kalau aku bilang pemandu jalannya Si Rempong....!! Karena dia kan lahir di Balikpapan, jadi mustinya hafal jalan utama sampai jalan tikus. Ternyata dia masih dipandu lagi sama temannya. Jadi di mobil dia bolak-balik telponan sama temennya yang aku dengar katanya lagi tidur.... Kocak abis....

"Pokoknya di Jalan Soekarno Hatta arah Samarinda." katanya.
"Oke Ndra... ini kan kita udah di Soekarno Hatta. Kilometer 38 kan tempatnya?"

Jalanan masih lengang. Di Kilometer 5 sekitar Pasar Butun yang biasanya macet aja lancar banget. Oke kita lanjut terus... Kilo 5, 6,7. Di Kilometer 8 Si Kepo nunjuk sebuah jalan masuk di kanan jalan. "Rumahku masuk jalan itu." Cuman itu doang pembicaraan pertama dia. Sebelumnya mojok lewat HP. Habis ngmong gitu, mojok lagi.

Kilo 10, 11.... 15. Tiba-tiba Si Rempong berteriak "Masuk ke kanan Pak...! Iya, masuk kanan, pas di sebelah Pos Polisi itu....!"
"Lah bukannya ini baru Kilo 15? Kan harusnya di Kilo 38...?" Kataku sambil nurut aja belok ke kanan dan masuk ke sebuah jalan.
"Iya, kata temenku, masuk di sebelah Pos Polisi." Katanya antara yakin dan enggak. Sampai ada gerbang bertuliskan : KONSERVASI BERUANG MADU"

What....!!!!

"Putar balik Pak...! Bukan di sini Bukit Bangkirai itu..." Katanya dengan innocence.

Alhamdulillah, sampailah kita di Kilo 38. Jalan pelan-pelan sambil cari penunjuk jalan yang akhirnya ketemu juga. Belok kiri, sambil tengak-tengok dari kaca spion aku lihat ada sebuah bangunan di seberang jalan. POS POLISI. Yang ini kali yang dimaksud teman kamu Ndra...

Dari Jalan Soekarno Hatta Kilometer 38 Poros Balikpapan - Samarinda, perjalanan ke Taman Wisata Bukit Bangkirai masih 10 kilometer lagi. 10 kilometer yang terasa jauh, karena jalan yang sempit, berliku, naik turun dan berlubang di sana-sini. Nggak off road sih, tapi cukup membuat kaki kiriku pegal menginjak pedal kopling. Baru setelah gerbang pertama agak masuk ke dalam, aku nggak bisa membayangkan bagaimana kondisi jalannya kalau musim hujan. Untung saat itu musim kemarau.
Gerbang Ke-2 Bukit Bangkirai

Nah, di sebelah ini gerbang ke-2 Kawasan Wisata Alam Bukit Bangkirai. Masuk wilayah Kutai Kartanegara. Dari sini, kawasan wisatanya sudah dekat. Kalau dari gerbang pertama tadi, jaraknya cukup jauh menuju gerbang ke-2 ini. Sebagian jalannya juga jalan tanah naik turun yang pastinya licin saat hujan. Tapi itu kondisi pada Agustus 2014 lho ya....

Oke, kita sampai. Di halaman parkir ada semacam pendopo gitu, di situ kita bisa beli tiket untuk naik ke "Sky Bridge", ada juga beberapa bungalow dan tempat makan. Tempat ini dikelilingi hutan Kalimantan.
Nggak jauh dari tempat parkir, ada tangga menurun. Dari sini penjelajahan ke dalam hutan menuju Sky Bridge dimulai dengan jalan kaki. Di tangga ini kita foto dulu yach....
Sebelum Tracking

Di sini juga ding... Soalnya ada jembatan kecil yang tropis abis tampangnya.

Selepas jembatan ini kita mulai tracking menelusuri salah satu track dari beberapa track yang tersedia. Instingtif, kami memilih track yang paling pendek untuk mencapai Sky Bridge. Track Djamaludin, Track II sepanjang 300 meter.
Track Djamaludin (Track II) 300 meter

Jalan setapak di sela-sela tingginya pepohonan yang tajuknya menyerupai atap. Bebarapa pohon bangkirai yang sudah lama tumbang melintang di jalan, beberapa di antaranya dipotong bagian tengahnya seukuran jalan setapak agar kami tak perlu repot-repot memanjat badan pohon yang melintang. Meskipun rebah, aku yakin perlu perjuangan khusus untuk melaluinya karena begitu besar diameternya.

Di kiri kanan bersuluran rotan hutan dengan duri-duri tajamnya. Sementara tanah gambut yang kami pijak menyisakan jejak tapak yang berdebu. Tanah jenis ini membuatku takut untuk merokok, karena takut terjadi kebakaran.

Dan mungkin dalam track ini aku harus melupakan dulu untuk merokok. Bukan apa-apa, track menanjak ini membuat degup jantung semakin memburu, napas tersengal dan lutut gemetar. Boro-boro merokok.

Kalau udah gini, aku ngerasa waktu itu nggak adil. Saat seperti ini, waktu hanya berpihak pada mereka yang berusia muda. Waktu memberikan si usia muda mampu berlari-lari kecil di antara tonjolan akar-akar yang melintang jalan membetuk tangga. Sedangkan aku harus melaluinya setapak demi setapak.

Tapi kupikir, waktu memberikan kesempatan buat si pria muda untuk menjadi hero buat perempuannya. "Capek dik...? Mau abang gendong...? Atau abang dorong sini...." Aiiiih....

Sedangkan aku: "Bentar, istirahat dulu yuk.... Napasku mau copot ini...." Beugh...

Bangkai Pohan Bangkirai
Padahal dulu, aku pernah naik gunung. Gunung Slamet. Walaupun nggak sampai kawahnya gara-gara aku tertahan di pos terakhir sebelum puncak lantaran muntah-muntah angin karena hypotermia.
Atau pernah juga jalan kaki ratusan kilometer dari childhood village sampai ke Pegunungan Dieng pulang pergi. Iya, jalan kaki.


Dengan penuh perjuangan, sampailah kami di Sky Bridge. Ully, Kepo dan Rempong sudah duluan nyampe di sana sambil berfoto-foto.
Nah, Sky Bridge sendiri adalah jambatan gantung yang terhubung dari satu pohon ke pohon yang lain. Ada tiga bentangan. Kata penjaga area ini, tingginya sekitar 40 meter dari permukaan tanah. Untuk naik ke jembatan ini, disediakan tangga yang nyaman untuk dinaiki. Bentuknya seperti tangga rumah yang menghubungkan lantai bawah menuju lantai di atasnya.
Begini nih tampangnya....
Tangga Ke Sky Bridge
Dari pohon yang ini, kita menyeberang ke pohon yang lain melewati jembatan yang tergantung dari pohon ke pohon. Mendingan lihat ke depan deh kalau ngeri lihat ke bawah.
Ayo Ully.... Kamu bisa...!
Meskipun lutut gemetar, urusan nyali ternyata aku cukup bisa berbangga. Buktinya tanpa gemetar (dikit sih...) aku dengan gegap gempita menyeberang sky bridge tanpa ragu. Sementara anak-anak muda itu harus diyakinkan dulu buat menyeberang. Ha... Ha... Ha... *sombong.

Tepi serius, saat berdiri di area batang pohon yang berpagar itu rasanya ragu buat melangkah ke jembatan. Apalagi ketika langkah pertama menjejak jembatan rasanya ngilu di perut.
Gimana enggak, kaki yang menjejak berayun turun menopang berat badan kita. Terus berayun naik turun mengikuti langkah dan terombang-ambing kanan kiri tertiup angin. Tambah ngilu... *pengen pipis.
Apalagi kalo ada yang jail menggoyang-goyang jembatan. Untung aku nggak dijailin, tapi sebaliknya aku yang jailin mereka...:D
Oiya, dalam perjalanan ke sini menjelang gerbang ke-2 kami ketemu mas-mas goweser sendirian naik sepeda. Sendirian lagi. Kupikir mau cross country atau tersesat kerana terpisah dari rombongannya.
Nggak taunya, kita ketemu lagi mas-mas goweser ber-bandana dan berjenggot di puncak sky bridge. Oalah... ternyata kita punya tujuan yang sama. Nih orangnya....

Sayang aku lupa namanya. Jadi nggak bisa nge-tag tulisan ini ke dirinya. Tapi yang jelas, setelah ngobrol-ngobrol ternyata dia bersepeda dari rumahnya di Muara Rapak.
Buseeet... Itu kan di Kilometer Nol. Kebayang capeknya perjalanan sampai sini. Dari Muara Rapak sampai ke Kilometer 38, belum lagi masuk hutan ke Bukit Bangkirai. Belum lagi ngebayangin pulangnya...

Mungkin Si Mas ini waktu berpisah dengan kami jadi pengen punya Pintu Kemana Saja pinjem dari Dora Emon.
"Atau mau abang gendong...?" Lho....!!!

Ya udah dech mas... Kami cuma ikut mendoakan supaya selamat sampai tujuan. Hehehe...

Nah, setelah puas mondar mandir dari satu pohon ke pohon yang lain (pastinya yang terhubung sky bridge ya... emangnya kita monyet...), dari bawah sudah diteriakin sama penjaga pake megaphone.

Katanya gini: "Yang sudah sampai di atas, segera turun...! Di atas menara jangan lebih dari 8 orang...! Jangan terlalu lama di atas, jangan merokok, jangan buang sampah....! Dilarang melukis... karena kalau melukis berarti akan lebih lama lagi di atas."

Kami tertawa dari atas Pohon Bangkirai yang menjulang. Keren yach.....?

Ya udah deh kita turun. Dibawah sempat lagi lihat ke atas. Wuih.... tadi kita ada di atas sana...?
Lalu berdebat pulangnya ke tempat parkir mau lewat track yang mana.
"Yang jauhan dech... Kan pulangya nggak nanjak." Nggak tahu siap yang punya ide asem kayak gitu. Yang jelas aku terus aja jalan tanpa peduli. Ya, lewat track pendek tadi. Lah, dipikirnya lutut nggak sakit menahan berat badan tambun ini menuruni track?

Baru di sini kita sadar bahwa persiapan buat trip ini nggak matang samasekali. Entah kenapa nggak ada yang kepikiran bawa air minum. Padahal di kantor ada berkardus air mineral gelas. Atau beli kek beberapa botol di warung.
"Mana ada warung di hutan gini...?" Kata Si Rempong.
"Berangkatnya dodoooll..." Jawabku.
Atau bawa galon sama dispensernya sekalian. Liar sekali pikiran kami saat kehausan.

Akhirnya kita puasin minum di cafetaria dekat tempat parkir. Ada yang mau pesen makan juga. Lia yang sehari-harinya ngurus duit kontan melarang, "Nanti aja di kota, takut mahal..." Bah....!

Oke, kita pulang......
Ully sempet bilang, "Mas, kalo capek nyetir, gantian sini aku yang nyetir."
Aku yang sudah sumringah mendengar tawaran menarik ini dan membayangkan nyamannya tidur dalam perjalan pulang mendadak jadi kecut gara-garanya ada suara: "No... no... no....!!!" dari Si Rempong. Nasib....

Sampai di Balikpapan kita makan Soto Banjar di Pasar Klandasan dan kemudian makan buah unik yang kita beli dalam perjalanan pulang tadi.
Ini dia buahnya.....
Buah Elay khas Kalimantan
Beberapa orang menyebutnya Durian Emas
Kemana lagi kita jalan guys.....??