01 January 2013
Kembang Buatmu
21 November 2012
Crop Circle
28 August 2012
Menanti Hujan
Mendung berayun di atap kotaku, seperti tatapan kekasih yang janjikan damai tanpa harus terucap. Hujan pertama yang mengakhiri garangnya kemarau selalu saja menjadi romansa. Bukan saja bagiku, tetapi pasti juga bagi setiap orang, dengan ceritanya masing-masing.Sejenak kunikmati semilir angin yang menyertainya. Selalu saja begitu alurnya, sama seperti tahun lalu atau tahun-tahun sebelumnya. Yang berubah hanyalah lagu jiwaku. Ya, dulu ketika aku kecil hujan pertama kusambut dengan teriakan gembira seraya berlarian di bawah rinainya.
Ketika belia remaja mendampingi usiaku, aku biasa menikmatinya dengan duduk di muka jendela, memandangi rintiknya yang menerpa dedaunan. Dan saat itu kubisa senandungkan lagu cinta yang belum lama kukenal. Bersamanya banyak tercipta bait-bait puisi dalam lembar-lembar catatan atau bahkan surat-surat kasmaran. Bersamanya aku merasa seperti tokoh utama dalam film-film percintaan yang paling romantis.
Dan kini, saat ini, aku berharap masih menikmati hujan pertama berdua denganmu seperti beberapa musim belakangan ini. Seperti biasa, uap tanah serupa dengan candu yang memabukkan yang menerbangkan angan tentang sebuah cerita damai. Seperti biasa, kita berdua akan saling diam, sibuk dengan fantasi masing-masing.
Seperti sebuah tradisi, selanjutnya kau akan bertanya masihkah diriku mencintaimu, lalu memintaku menjadi rinai hujan yang membasahi jiwamu.
"Ya...tentu saja aku mencintaimu. Tak perlu kau ragukan hal itu."
"Jika begitu, tunjukkan rasa itu! Aku juga ingin kau belai sekali-sekali" katamu sambil merajuk.
"Bukankah aku telah menunjukkan hal itu dengan caraku sendiri? Dengan berada di sini bersamamu?"
Mungkin aku adalah seseorang yang tak begitu pandai mengungkapkan cinta dengan kemesraan seperti layaknya pasangan yang sedang berpacaran. Kau pernah mengatakan bahwa cinta kita harus dihias sekali-sekali agar tak gersang.
Katamu, "Kalau sampai gersang aku takut akan mati."
"Kenapa harus mati jika kita sendiri yang berkehendak untuk menjaga dan mempertahankannya?"
"Tak maukah kau menghiasi ruang hati yang kita isi dengan kebersamaan cinta?"
Ingin kukatakan kepadanya bahwa aku lebih memilih untuk membiarkannya begitu saja. Bukan kutinggalkan prasasti cinta itu. Tentu saja akan kutengok setiap pagi, siang dan malam. Tapi kusenang membiarkan lumut tumbuh subur di sela-sela permukaannya. Kusenang membiarkannya tampak tua.
"Kau tahu kenapa?" kataku kemudian. "Karena kuingin kita melihat cinta kita itu telah tumbuh dewasa. Dengannya menjadi bukti bahwa kita telah memilikinya sejak lama sekali."
Kuingin kita berdua menilainya betapa banyak sejarah yang telah tertoreh dari cinta yang kita miliki. Sejarah untuk kita sendiri. Meski berlumut bahkan mungkin lapuk, tapi tidak dengan ruhnya.
"Tapi lenganmu belum rapuh untuk sekedar merengkuh pinggangku kan? Bahumu belum terlalu lemah untuk menopang kepalaku kan?" Ah...pertanyaanmu lagi.
Kataku, "Baiklah...."
Kuharap hujan segera turun menemani saat ini untuk kita.
04 May 2012
KOTAK AJAIB
Ini bukan sembarang kotak ajaib. Dia ada semenjak tercipta hingga entah sampai kapan selama orang masih punya kuping sebagai indera pendengaran.Dia ada sejak jaman engkong-nya engkong, jaman kumpeni dan marsose bercokol, jaman Bung Tomo membakar semangat pertempuran, jaman Koes Plus yang masuk bui lantaran musik ngak ngek ngok-nya, jaman kelompencapir hingga jaman Cherybelle dan M. Nazarudin kesandung Wisma Atlet. Ya, setidaknya sampai saat ini.
Baiklah, sekarang kita bicara tentang RADIO, si kotak ajaib yang saya maksudkan tadi.
Ada ungkapan orang bijak yang mengatakan : “ Setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya. “
Masa yang berlalu hanya mengubah teknologi, bentuk, dan orang-orang di dalamnya. Adapun tentang fungsi ? Sami mawon, sama saja. Lalu di manakah ajaibnya ?
Nah, bicara soal ajaibnya kotak bernama radio itu, saya bisa membuat anda tersentak dan menyadari tentang sesuatu. Sabar.... Untuk menuju ke sana saya ingin mengajak anda merenungkan satu hal :
Hal apakah yang harus anda sishkan, sempatkan atau korbankan untuk mendengarkan radio ? Apakah anda perlu menyempatkan waktu tertentu untuk mendengarkan radio ? Apakah anda harus menyapkan ruangan tertentu untuk mencerna siaran radio ? Apakah anda harus meninggalkan aktifitas yang sedang anda jalani ?
Jawabannya : Tidak !
Anda tak perlu melakukan semua itu. Anda bisa melakukan aktifitas apapun untuk mendengarkan radio. Biarkan radio yang menemani anda.
Anda bisa menyimak siaran radio sambil makan, membaca, ngobrol, mengemudi, marah-marah, mandi, atau bahkan tidur dan mungkin –maaf—bercinta . Biarkan radio yang menyuapi anda akan hiburan.
Anda tak perlu memasuki ruangan tertentu untuk mencerna siaran radio. Bebas saja. Bisa di kamar, di ruang tamu, di jalan, di mobil, di kantor, di kafe, atau di mana saja. Biarkan radio yang menyajikan informasi untuk anda.
Radio tak menuntut anda untuk melebarkan mata untuk membaca atau melihat warna-warna visual. Radio tidak meminta anda duduk di satu tempat. Praktis, yang anda perlukan hanyalah telinga ! Itu saja.
Anda menyadari sesuatu ? Bukankah ini ajaib ?
Yang ini lebih ajaib. Anda pasti pernah menyaksikan sebuah video clip. Pasti. Apakah yang anda lihat ? Anda dituntun—atau dituntut—untuk mengikuti visual yang ditayangkan.
Sekarang bandingkan dengan ketika anda mendengarkan lagu lewat radio, dimana sang penyiar mengantarkan untuk menyimak lagu tersebut. Ya... hanya mengantarkan saja. Sebatas itu. Lalu, saat lagu itu diperdengarkan, imajinasi anda sendirilah yang bermain, menggambarkan adegan demi adegan, lengkap denag tekstur, warna dan aroma yang anda buat sendiri dalam benak anda.
Ajaib ! Betul kan ?
Setiap manusia memiliki kesan, suasana hati atau perasaan masing-masing setiap detik yang dijalaninya. Ajaibnya—lagi-lagi—ajaib, radio bisa menemani pendengarnya dalam suasana apapun ketika itu. Tak peduli apakah pendengarnya tengah menangis karena sedih, tersenyum dan tertawa karena bahagia, putus harapan atau optimis, sedang ingin tahu sesuatu, semuanya dapat tersentuh.
Ah, ternyata radio dapat mempengaruhi emosi pendengarnya. Bisa menyemangati saat sedih, atau bahkan ikut berempati akan problema yang di alami pendengarnya. Dalam saat yang sama. Ya, dalam saat yang sama, secara personal, pribadi.
Bukankah seseorang akan merasa tersanjung atau merasa dihargai jika disapa secara pribadi ? Di situlah salah satu kekuatan radio. Meskipun ucapan penyiar didengarkan oleh ratusan bahkan ribuan orang, pendengarnya akan merasa tersentuh secara personal, intim.
Ini juga ajaib bukan ?
Maka penyiar yang benar akan menggunakan sapaan pendengarnya dalm bentuk orang ke-dua tunggal seperti : anda, kamu, elu, ente, ngana, maneh, you,kowe, sampeyan, yeiy dan sebagainya sesuai dengan karakter format radionya (biasa disebut call audience). Dan bukannya : Anda semua, you all atau lainnya yang berkonotasi jamak.
Karenanya, berapa kalikah dalam hidup anda merasa tersentuh karena cuap-cuap penyiar ?
Anda pasti pernah dibuatnya menangis padahal di saat itu juga pendengar lainnya dibuat tertawa, atau sebaliknya. Hanya radio yang bisa begini.
Kawan, penemuan teknologi radio adalah suatu hal yang : brilliant.
Maka, profesionalitas dan keratifitas awak radio juga musti : excelent.
Dan pendengar yang memilih stasiun radio yang baik untuk didengar adalah : amazing.
Nah, dengan berbagai kejaiban itu, apakah radio siaran itu akan ditinggalkan ?
Saya rasa tidak. Karena saya yakin. Haqqul yaqin andapun salah satu dari pendengar radio.
Dengan media lain ? Kita hanya berbagi waktu saja.
Sekali di udara tetap di udara !
Bravo Radio !
01 February 2012
Pulang
Kutahu, suatu saat nanti aku akan pulang. Hujan masih saja turun dengan derasnya, seperti ditumpahkan begitu saja dari langit. Aku menepikan sepeda motorku ke sebuah halte. Beberapa orang berteduh di bawahnya. Kulirik jam tanganku, jam lima sore.
"Pulang dik....?" tanya seorang bapak yang duduk sambil mengepulkan asap rokoknya di sebelahku. Aku hanya tersenyum. Senyum yang kuyakin terlihat aneh. Aneh, sama anehnya jika kudengar kata "pulang".
Kutepiskan bercak lumpur yang mengotori sepatu boot yang membungkus ujung kakiku hingga ke lutut. Bapak tua itu mengangsurkan bungkus rokoknya kepadaku. Aku mengambilnya sebatang, kunyalakan lalu kuhisap dalam-dalam asap pahitnya, seperti menelan bulat-bulat kegetiranku.
"Saya juga kangen rumah. Anak-anak saya juga pasti sudah menunggu saya pulang." Ah, kata-kata itu lagi. Aku jengah mendengarnya. Namun aku mengangguk, penasaran. Sepertinya bapak ini bisa membaca pikiranku.
"Pasti rumah Bapak hangat." Kataku pada akhirnya.
"Hehehe.... hangat itu di sini dik..." katanya sambil menunjuk ke arah dadanya. "Jiwa kita sendiri yang akan bikin hangat atau dingin apapun yang kita miliki. Percaya sama Bapak, kehangatan itu yang akan membuat kita selalu pulang ke tempat yang sama."
Aku tersenyum kecut. Bukannya aku tak percaya kata-katanya, tapi aku tengah kesulitan untuk memaknai kata "pulang". Beberapa bulan ini aku hanya mengenal kata "singgah". Bagiku pulang itu hanya ke sebuah tempat yang pernah aku miliki. Tempat yang kini hanya secara diam-diam aku rindukan.
"Bapak tahu bagaimana rasanya kehilangan. Tapi adik pasti lebih tahu bagaimana perasaan yang sebenarnya."
"Terimakasih pak. Saya pernah mengucapkan selamat jalan kepada apa yang hilang. Dan saya sedang berusaha untuk melakukan hal yang sama, saat ini, saat kerinduan itu datang lagi."
"Ya ya ya... itu baik sekali."
Aku menghela napas panjang. Di benakku tergambar lagi sudut-sudut ruangan yang pernah kupeluk. Kukenali setiap jengkal lantai dan dindingnya. Dulu, aku selalu nekad menerobos hujan agar lekas sampai ke rumah untuk kemudian kubasuh tubuhku dan menghirup secangkir kopi atau bersembunyi di balik selimut sambil mengeja baris-baris buku yang belum selesai kubaca.
Hujan hanya tinggal menyisakan gerimis. Bapak tua itu menepuk pundakku, "Pulanglah ke tempatmu singgah. Tidur dan bermimpilah tentang tempatmu pulang. Lalu genggam dan kejarlah. Jangan lupa berdoa dan adukan hanya kepada Tuhan." Dengan berlari-lari kecil bapak tua itu menuju kesebuah angkutan kota yang akan membawanya pulang.
"Kamu di mana...?" Suara kecil dari telepon genggamku memanggil dengan nada khawatir, menungguku untuk pulang.
Ya, setidaknya aku masih memiliki tempat pulang yang tak mungkin akan hilang. Seketika hatiku hangat.
Jika benar Tuhan selalu punya rencana terbaik, pada waktu yang tepat pasti aku akan bisa wujudkan mimpiku. Aku beranjak menuju sepeda motorku. Tanpa terasa air mata menetes membasahi wajahku, bercampur dengan rinai gerimis.
Aku tahu, suatu saat nanti aku akan pulang.
21 September 2011
NADA MIMPI
Bagiku kau adalah nada. Nada yang oktafnya terlalu tinggi hingga aku tak dapat menjangkaunya. Tak dapat kuraih meski sekencang apapun aku berteriak. Baiklah, aku tetap akan menyenandungkan nada milikmu , dengan nada yang sama meskipun dalam oktaf yang berbeda. Meskipun dengan begitu aku tetap tak bisa memilikimu, utuh. Lalu senandungku merayap meniti hembusan angin ke dalam imaji yang melukiskan warnamu dalam benakku. Ada wajahmu yang kukira kukenal dengan sangat dekat. Ada rambutmu yang menggelayut membelai buah dadamu. Ada puting susumu, yang telah menyusui tiga anak, namun bagiku tetap serupa dengan puting susu perawan. Ada pipimu yang terjatuh, tetapi menurutku masih seranum apel seperti layaknya belia. Ada tubuhmu yang mengundangku untuk memberikan pelukan dan dekapan juga gumulan.
“Kau terlalu mahal!” kataku saat itu. Saat angin membawa suara kita.
“Kau pikir kau harus membeliku?”
“Tidak, aku harus membeli jarak. Dan kukira aku tak mampu membayarnya.”
“Hah....” kudengar desahan nafasmu itu. “Lalu kenapa kita tak seranjang saja selamanya?”
Mimpi! Senandungkan nadamu adalah mimpi. Warnamu mimpi. Wajahmu mimpi. Rambutmu mimpi. Payudaramu mimpi. Puting susumu mimpi. Pipimu mimpi. Tubuhmu mimpi. Pelukan, dekapan dan gumulan itupun mimpi. Semua tentangmu itu mimpi.
“Dan kita seranjang bersama adalah mimpi di dalam mimpi.” Kataku pada akhirnya.
“Berarti itu tak mungkin?”
“Entahlah...apakah mungkin ada cinta kedua jika hanya boleh ada satu kebersamaan.”
Kau pernah berkata, akulah kebahagiaanmu sedangkan dia adalah kenyataan. Jika begitu, apakah bahagia itu tak bisa ada dalam kenyataan? Apakah kenyataan itu tak bisa memberikan bahagia? Akupun tak juga bisa menemukan jawabnya.
Yang kutahu, kita harus mensyukuri kenyataan. Tapi kenyataan yang mana? Apakah gejolak hatimu padaku dan gairahku tentangmu bukan kenyataan jika kita berdua merasakanya dengan segenap panca indera?
Ah...tanya, tanya dan tanya! Hanya itu yang selalu ada.
"Baiklah, kita uji saja apakah ini realita atau hanya sekedar lagu impian” kataku kemudian.
“Bagaimana caranya?”
“Apakah semua rasa itu akan tetap terjaga meski kita tak bertegur sapa untuk waktu yang panjang, atau akan terkikis helai demi helai hingga akhirnya habis.” Seperti halnya tetumbuhan yang tak pernah disiram, mungkin dia akan mati. Atau akankah seperti seorang anak yang tak pernah dijenguk orang tuanya, dia masih akan mencari dan tetap mengakui orang-orang yang mengukir jiwa raganya.
"Itu berarti jika kita terjebak menjadi tetumbuhan yang mati kita telah memilih jawaban bahwa kita hanya bermimpi?”
“Ya,... dan bagiku itu bukan jebakan, tetapi pilihan. Membuatnya tetap bersemi, tetap mencari atau memilih untuk berpaling sia-sia.”
“Hemmm... lalu apa lagi?”
“Ketika kita memberi atau berbuat sesuatu untuk salah satu di antara kita, adakah kita merasa telah berkorban atau tidak.”
“Maksudmu?”
“Cinta telah tutup usia jika kita merasa telah berkorban untuk seseorang yang kita cintai. Karena orang akan melakukan apapun untuk cinta, tanpa pamrih dan tanpa merasa perih.”
Malam-malamku sendiri. Sunyi rebah berserakan di beranda, di kamar tidur, di mana-mana seolah menguntitku kemanapun aku beranjak. Ada hampa terhampar di sekelilingku ketika senja mulai menurunkan tirainya. Dan aku berharap kau tak mengalami hal yang sama. Karena aku tak merasa berkorban jikapun kau bermanja dengan semua yang ada dalam rumahmu. Karenanya, aku tak merasa sendiri.
Jangan berharap apapun dengan mimpi kita. Saat ini, mimpi ataupun kenyataan bagi kita tak ada bedanya. Sama saja.
Kita bisa memilih kenyataan, tapi kita tak bisa memesan mimpi, seperti kita tak juga bisa menghindarinya. Maka biar saja mimpi itu terbit, mengembara dalam kamar-kamar jiwa. Dan kita tak bisa membelokkan ke mana arahnya. Kita tak bisa memiliki kendali atasnya.
Mungkin kenyataan antara kita tak masuk logika. Tentu saja, maka tak usah dipikirkan karena inilah mimpi, tapi bukan juga imajinasi.
Teruslah tidur kalau kau mau, biarkan mimpi itu menyunggingkan bibirmu mengulas senyum. Biarkan jiwamu yang menyanyikan nada-nada mimpi. Karena otak saat ini tengah rehat.
Esok hari mentari tetap akan bersinar sekalipun mendung membatasi.
19 August 2011
RINDU INI
Akhir-akhir ini, makhluk yang bernama rindu rajin sekali mengunjungiku. Pagi hari dia membangunkanku, siang dia datang lagi menemaniku, malam dia menanarkan mataku serupa penampakan.Bukannya aku tak mau terusik kerinduan, karena kerinduan adalah riak-riak cinta dimana gelombangnya masih bergelora. Tak terbayangkan jika tak ada ombak kerinduan, pastilah di tengah samudra hati sana telah senyap dari gairah. Maka, aku inginmenikmatinya saja sebagai interlude sebuah lagu.
Tapi yang membuatku nelangsa, sayap rindu itu hanya mampu hinggap di bubungan atap kamarku. Dia tak sepenuhnya bisa terisap ke dalam jiwaku. Padahal, jika rindu itu dapat kubaca sepenuhnya, mudah saja bagiku untuk mengirimkan balasannya, kepadanya yang telah mengutus rindu ini menemuiku. Ya, kerinduan itu hanya bisa merembes melewati celah-celah genteng bocor, atau kisi-kisi jendela kamarku.
Ini masalahnya. Kamu saat ini begitu jauh, hingga kedua belah tanganku tak mampu menjangkaumu dalam rengkuhan. Padahal malam-malam ini begitu dingin, dan kamu pasti butuh pelukan.Padahal malam tadi begitu cerah, hingga gemintang menampakkan dirinya, kolosal sekali. Dan kamu pasti butuh diriku untuk menghitung jumlahnya.
Tapi sudahlah, kita telah sama-sama sepakat memilih rindu untuk mewakili cinta yang sebenarnya. Selama kita saling percaya bahwa rindu yang kita kirimkan takkan pernah menjadi hampa dan sia-sia, selama itu pula rindu ini akan teduh dan menyejukkan, bukan membakar seperti cemburu. Kita telah sepakat juga untuk hal itu.
Kusdar, aku tak bisa menemani kamu terbang karena banyak hal. Bagaimanapun sepinya diriku, juga dirimu, ingin kukatakan padamu,
“Kulepaskan kamu untuk terbang sejauh yang kamu yakin bisa jangkau. Dan di sini, akan kubangun sarang yang tenang dan hangat untukmu, untuku, untuk kita.”

