01 June 2013

Balikpapan Jazz Fiesta Day #1

Cozy.....! Itulah kesan yang sangat kental terasa dalam gelaran Balikpapan Jazz Fiesta 2013 hari pertama, 31 Mei 2013. Balikpapan Jazz Fiesta sendiri merupakan festival jazz pertama yang diselenggarakan di Balikpapan. Untuk kawasan Kalimantan Timur, ini adalah festival jazz yang ke-dua setelah sukses digelar di Samarinda dengan label Mahakam Jazz Festival setahun yang lalu.

Agus Setiawan Basuni, Festival Director dari Jalamaya Production (initiated by Warta Jazz) mengatakan dalam interview program C Radio Jazz Corner di C Radio 94.6 FM Balikpapan (30/5/2013) bahwa Balikpapan Jazz Fiesta dapat diakatakan sebagai proyek idealis. Pertama, menumbuhkembangkan potensi musisi berbakat di Balikpapan. Ini karena melihat banyaknya potensi musisi-musisi jazz Balikpapan, sehingga diaharapkan akan muncul band-band jazz baru di masa yang akan datang.

Kedua, Balikpapan Jazz Fiesta akan memberikan agenda wisata dengan geliat positif yang bisa ditimbulkannya. Terbukti, pada gelaran hari pertama, Balikpapan Jazz Fiesta mampu mendatangkan animo jazz lovers dari luar daerah yang datang ke acara ini. Misalnya ada audience yang datang dari Jakarta, Surabaya, bahkan Padang.

Yang menarik dari Balikpapan Jazz Fiesta 2013 adalah venue di Pantai Kemala Balikpapan. Menarik karena stage benar-benar berdiri di tepi pantai, tepat di atas pasirnya. Dan menurut Agus Setiawan Basuni ini yang pertama kali di Indonesia.

Sistem koordinasi dan mekanisme administrasinya juga menggunakan sistem yang baru pertama kali diaplikasikan dalam dunia showbiz seperti ini. Tanpa tiket sama sekali. Jazz lovers yang akan datang hanya perlu mendaftar invitation di www.balikpapanjazzfiesta.com dan selanjutnya by email secara otomatis akan mendapatkan unique ID yang harus ditunjukkan di pintu masuk. Unique ID ini akan berlaku juga di festival-festival jazz selanjutnya di Balikpapan.

Gelaran hari pertama (31 Mei 2013) sebelum dibuka oleh Walikota Balikpapan H. Rizal Efendi, SE, Balikpapan Jazz Fiesta didahuli dengan penampilan band-band jazz Kalimantan Timur yang sangat potensial. Seperti Soulace yang memainkan komposisi dengan beat-beat groovy, atau Second Rise, De Cress, Archipelago serta Bodhisatvva yang menghentak lewat cover version dari Toto seperti Africa dan Rosanna.
Bodhysatvva


Dalam sambutan pembukaan, Walikota Balikpapan H. Rizal Effendi, SE menyatakan sangat apresiate dengan penyelenggaraan Balikpapan Jazz Fiesta 2013. Diharapkan, acara ini akan dijadikan agenda rutin di Balikpapan. bahkan Walikota menjanjikan, "Jika Kota Balikpapan mendapatkan Adipura Kencana tanggal 10 Juni nanti, maka kita akan pesta jazz."

Semakin malam, jazz lovers yang datang ke Balikpapan Jazz Fiesta di Kemala Beach semakin membeludak. Secara khusus, pengunjung yang datang terlebih dahulu akan berkesempatan duduk di table yang dikemas ala candle light diner. 

Perform pertama kali sebagai penampil utama, Dony Suhendra Power Fusion Trio. Siapalah jazz lovers yang tidak kenal dengan gitaris senior yang satu ini. Namanya sempat mewarnai band yang digawangi oleh Indra Lesmana, Krakatau. Kematangan bermusiknya dalam jazz seperti menjadi sebuah "kebijaksanaan luhur" yang menyejukkan jazz lovers.

Dony Suhendra Power Fusion Trio
Dony Suhendra Power Fusion Trio diperkuat oleh "bassist seribu band" Adi Dharmawan. Adi adalah musisi jazz yang berkarakter kuat, dengan kepala yang selalu plontos dan selalu mengenakan pakaian bawahan seperti sarung berwarna hitam polos. Jangan tanya soal skill. Adi Dharmawan memiliki skill yang cukup mumpuni dan berkarakter kuat. Di beberapa penampilannya yang lain dalam Ligro Trio (grupnya bersama Agam Hamzah dan Gusti Hendy) Adi kerap menyenandungkan nada etnis melalui suaranya, magis dan bernuansa world music.

M. Iqbal on Solo Drum
Lalu drummer Dony Suhendra Power Fusion Trio, M. Iqbal. Dia tak kalah mendapatkan applause dari penonton. Terlebih ketika berkesempatan untuk solo drum. Dony Suhendra secara khusus mengomentari M. Iqbal, putra Samarindra kelahiran Tenggarong sebagai drummer potensial dan sangat berbakat. M. Iqbal sempat menjadi drummer tamu dari Emerald dalam gelaran Jak Jazz Festival 2012, kemudian menjadi drummer Trisum (bersama Dewa Budjana, Tohpati dan Balawan). Sesuatu yang membanggakan sekaligus menginspirasi musisi-musisi muda Balikpapan untuk berkarya lebih baik lagi.

Mereka bertiga, selain memainkan komposisi-komposisi mereka sendiri, juga sempat memainkan komposisi dari Chick Corea.

Barry Likumahuwa Project (BLP)
Performer berikutnya adalah Barry Likumahuwa
Project (BLP) dengan front man Barry Likumahuwa yang dinamis dengan permainan bass yang telah membawa banyak prestasi bahkan di kancah internasional. Putra musisi legendaris Benny Likumahuwa ini lebih suka band-nya ini dipanggil dengan BLP, karena menurutnya ini adalah performa secara tim bersama dengan rekan-rekannya seperti Dennis Junio (alto sax) yang sering menjadi scream maker, juga Ray Monte yang bertindak sebagai vokalis.

Benny Likumahiwa in collaboration with BLP
Di tengah penampilan BLP, hadir secara mengesankan, ayah dari Barry Likumahuwa, Benny Likumahuwa legenda jazz yang multi instrumentalis tetapi kerap memainkan trombone dan flute. Seperti yang disajikan dalam kolaborasinya dengan BLP, Benny Likumahuwa meniup trombone dengan beberapa komposisi. Bahka secara dramatis, Benny Likumahuwa melepas horn dari trombone-ya lalu tetap memainkannya. Tidak cukup sampai di situ, dia juga lalu melepas mouthpiece. Maka nada-nada keluar hanya dari mouthpiece yang ditiupnya. Kemudian, tanpa mouthpiece, Benny Likumahuwa ber-scat singing. Luar Biasa.

Kebanggaan jelas terlihat dari Benny Likumahuwa ketika menceritakan bagaimana anaknya (Barry Likumahuwa) semenjak kecil diperkenalkan terhadap musik, lalu kini memilih bass sebagai instrument-nya. Kebanggan itu juga tercermin dalam salah satu komposisi yang mereka bawakan, "Like Father Like Son.

Kembali tampil berkolaborasi dengan BLP, Monita Tahalea. Penyanyi jebolan Indonesian Idol ini menjadi yang paling cantik di atas panggung Balikpapan Jazz Fiesta 2013. Memang, penyanyi berdarah Ambon - Austria - Manado ini menjadi satu-satunya performer wanita selain band-band pembuka.
Monita Tahalea with BLP


Tiga lagu dilantunkannya dengan menyentuh bersama dengan BLP. Sebagian diambil dari single yang telah dibuatnya, seperti "I Love You" dan "Untukmu"

Terakhir, tentu saja hentakan BLP menuntaskan acara dengan sentuhan funk dan improvisasi dari masing-masing personelnya. Komunikasi dengan penonton secara dialog verbal dan secara musikalitas mampu mencairkan suasana menjadi semakin asyik. Inilah yang kemudian jazz mulai disukai anak-anak muda.

Satu kata: KOMPLET! Gelaran Balikpapan Jazz Fiesta malam pertama ini cukup mengakomodir semua range usia, mulai anak muda, dewasa sampai yang veteran. Apresiasi yang tinggi kepada Warta Jazz, Jalamaya Production, Djarum Super Mild, media partner (di antaranya C Radio 94.6 FM Balikpapan), juga Balikpapan Jazz Lovers serta penonton yang sudah menyaksikan Balikpapan Jazz Fiesta dengan enjoy dan tertib.

Kita akan guncang malam ke-dua Balikpapan Jazz Fiesta 2013. Masih ada performance dari para musisi yang tampil di malam pertama. Tentu saja dengan dilengkapi penampilan dari Rio Sidik, trumpeter asal Bali yang telah memiliki sekain banyak pengalaman manggung di banyak festival seperti Java Jazz Festival, Asean Jazz Festival di Batam dan Penang Jazz Festival di Malaysia, Jarasum Jazz Festival di Korea hingga Afrika Selatan. Serta bersama kelompok Saharadja, ia kerap berkeliling dunia.  

Malam ke-dua nanti akan ditutup dengan penampilan Gugun Blues Shelter. Band blues yang juga telah bentak mengharumkan nama Indonesia di kancah musik internasional. 

Sampai jumpa nanti malam di pantai Kemala Balikpapan dalam Balikpapan Jazz Fiesta 2013 hari ke-dua.

written by Reza Ahmad (Host C Radio Jazz Corner - 94.6 FM C Radio Balikpapan)
 

01 January 2013

Kembang Buatmu



Tahun baru kali ini aku di tanah orang. Tak ada yang istimewa sebenarnya, seperti banyak tahun yang aku lalui. Kecuali saat aku kecil, saat justru aku tak tahu bahwa kembang, lagu dan puisi menjadi ungkapan cinta.

Sebenarnya sore hari 31 Desember aku bisa saja duduk di cafe tepi Pantai Melawai, sambil menikmati ombak Teluk Balikpapan yang tenang. Atau menelusuri jalan minyak yang lengang diapit hutan Kalimantan yang diam dan jajaran kilang minyak yang berderet angkuh. 

Nyatanya tidak, aku bahkan membatalkan rencanaku untuk hang out bersama teman-teman kantor, memandangi warna warni kembang api, atau menyesap beberapa teguk bir diiringi dentuman musik yang membuat trance di sudut club.

Aku hanya sedang kangen kamu. Ya, kamu yang saat ini terbaring di sisiku bersama dengan begitu banyak jejak kebersamaan. Tidurlah, agar mimpi bisa tersimpan dalam kemasan yang bisa kita bawa kemanapun, seperti kita membawa nafas kita. Suatu saat nanti, kemasan mimpi itu akan kita buka untuk melunasi perjalanan meraihnya.

Tidurlah, agar dalam mimpi kamu bisa mendengarku bernyanyi. Tapi jangan anggap bahwa nyanyianku adalah mimpi. Aku hanya sedang lupa caranya menyanyikan lagi cinta. Tapi percayalah, senandung itu masih terdengar jelas jika kamu bisa menyusup ke dalam ruang hatiku.

Esok, ketika aku baru bisa terlelap dan kamu sudah terjaga, pergilah ke toko bunga di seberang jalan. Kau ambillah pesanan bungaku untukmu, ada puisiku di situ.

Kumohon, ambillah sendiri, karena aku malu jika harus menyerahkannya sendiri untukmu.

Selamat Tahun Baru......

21 November 2012

Crop Circle



Biar kupesan lagi segelas bir lagi. Bukan karena dingin. Udara malam ini memang begitu kelabu, kadang ungu seperti warna janda, menelisik celah-celah jendela lalu menuju entah ke mana.

Dan satu gelas lagi. Bukan karena tubuhku perlu hangat, tapi karena kamu yang dingin. Mungkin satu gelas lagi, hingga bisa kulihat kupu-kupu beterbangan dari bibirmu. Merah, kuning, biru berkepak kecil berputar menari. Aku tersenyum meski kutahu aku sedang mendustai diriku sendiri.

Heningmu nyaris tanpa jeda. Ya, nyaris, karena terkadang kamu memperlihatkan catatanmu kepadaku. Tapi saat itu pula aku hanya bisa tertegun, tak bisa membaca, mendadak buta huruf. Tulisanmu seperti kode-kode alien yang terenkripsi, susah bagiku untuk memahaminya. Terkadang malah kamu tunjukkan lukisanmu. Aku bisa melihat keindahannya, tapi aku tak bisa menterjemahkannya. Bagiku, lukisanmu serupa dengan crop circle. Indah, rapi, simetris. Kutahu itu mengandung arti, tapi aku tak tahu apa.

Aku mabuk. Dan kamu bersedia menemaniku. Tapi hening, itulah yang sebenarnya membuatku mabuk. Pagi tadi kubuatkan lukisan untukmu. Selembar danau yang tenang, dikelilingi pepohonan hijau yang daunnya seperti terpangkas rapi membentuk gambar jantung. Lalu ada bungalow kecil di pangkal dermaga. Dan juga perahu berwarna merah muda dan biru tertambat di tiang dermaga.

Kamu hanya tersenyum. Itu saja.

Dan aku harus memesan lagi bergelas-gelas bir.

“Aku tersesat meskipun baru mencoba memasuki binar matamu.” Kukatakan itu saat kita duduk di bangku paling sudut kafe, dekat jendela yang menghadap jalanan agar aku bisa mengalihkan perhatian bila salah tingkah.

“Mau pesan minum?” katamu.

Lemon squash.”

“Bir...?”

“Nggak.”

Aku sedang tak butuh bir. Sekilas kupandang bibirnya, berharap ada senyummu. Ya, kamu memang tersenyum. Tapi setelah itu kamu berpaling ke stage kecil dimana Careless Whisper mengalun dari penyanyi bertubuh subur itu.
Kunyalakan sebatang rokok, kuhisap dalam-dalam lalu kuhembuskan. Sekedar bersiap seperti ancang-ancang untuk bicara. “Kamu tahu mengapa dua orang yang saling mencinta, mereka menyebut belahan jiwa satu sama lain?”

“Hem....?”

“Maksudku kapan dua orang yang saling mencintai bisa menghayati makna dari kata belahan jiwa seperti yang sering diucapkan?”

“Kapan...?” kamu balik bertanya sambil menyeruput hot chocolate.

“Saat keduanya terpisahkan....”

“Kok bisa?”

“Karena saat itu mereka merasa sebagian hatinya terrampas. Hilang separuh. “

“Menyakitkan pasti...”

“Ya, seperti diriku saat ini. Belum menyatu, apalagi terpisah. Tapi sakitnya sudah terlebih dahulu aku rasakan.”

Tanganmu terulur menyentuh dan mengusap punggung tanganku. Dan akupun tak tahu apa maknanya. Lalu mengalir kata-kata bijak tanpa jeda yang membuatku menjadi pusing. Selalu begitu, dan selalu seperti ini. 

Aku tak tahu apakah aku yang bodoh untuk membaca hatimu, menafsirkan kedekatan kita, aku yang tak bisa berbicara dengan bahasamu, atau kamu yang tak bisa menangkap isyarat cinta?

Ya, aku cinta kamu. Selalu kuyakini kamu tahu itu.

Tapi selalu hening saat bersama. Atau suara dari bibirmu berisi hasihat bijak yang bagiku menjelma menjadi bilangan-bilangan biner.... 01100011110000110110110....

Bukan itu yang ingin kudengar.

“Kamu mau pulang sekarang...?” tanyamu sambil beranjak.

“Nanti saja”

“Kutinggal dulu ya, aku......bla bla bla bla........”

Aku tak hirau dengan ucapan-ucapannya. Pandanganku kabur, otakku kendur. Hingga seolah telingamu memanjang runcing ke atas, matamu membesar dan kepalamu meninggi. Lalu seolah kata terakhirmu berbunyi : “Aku ada arisan di planetku...”

Ketika kamu beranjak, ada gambaran crop circle di atas kursi yang kamu duduki. Hangat, sedikit mengepul dan bau hangus.

Aaaah.... I need some beers....!!!

28 August 2012

Menanti Hujan

Mendung berayun di atap kotaku, seperti tatapan kekasih yang janjikan damai tanpa harus terucap. Hujan pertama yang mengakhiri garangnya kemarau selalu saja menjadi romansa. Bukan saja bagiku, tetapi pasti juga bagi setiap orang, dengan ceritanya masing-masing.

Sejenak kunikmati semilir angin yang menyertainya. Selalu saja begitu alurnya, sama seperti tahun lalu atau tahun-tahun sebelumnya. Yang berubah hanyalah lagu jiwaku. Ya, dulu ketika aku kecil hujan pertama kusambut dengan teriakan gembira seraya berlarian di bawah rinainya.

Ketika belia remaja mendampingi usiaku, aku biasa menikmatinya dengan duduk di muka jendela, memandangi rintiknya yang menerpa dedaunan. Dan saat itu kubisa senandungkan lagu cinta yang belum lama kukenal. Bersamanya banyak tercipta bait-bait puisi dalam lembar-lembar catatan atau bahkan surat-surat kasmaran. Bersamanya aku merasa seperti tokoh utama dalam film-film percintaan yang paling romantis.

Dan kini, saat ini, aku berharap masih menikmati hujan pertama berdua denganmu seperti beberapa musim belakangan ini. Seperti biasa, uap tanah serupa dengan candu yang memabukkan yang menerbangkan angan tentang sebuah cerita damai. Seperti biasa, kita berdua akan saling diam, sibuk dengan fantasi masing-masing.

Seperti sebuah tradisi, selanjutnya kau akan bertanya masihkah diriku mencintaimu, lalu memintaku menjadi rinai hujan yang membasahi jiwamu.

"Ya...tentu saja aku mencintaimu. Tak perlu kau ragukan hal itu."

"Jika begitu, tunjukkan rasa itu! Aku juga ingin kau belai sekali-sekali" katamu sambil merajuk.

"Bukankah aku telah menunjukkan hal itu dengan caraku sendiri? Dengan berada di sini bersamamu?"

Mungkin aku adalah seseorang yang tak begitu pandai mengungkapkan cinta dengan kemesraan seperti layaknya pasangan yang sedang berpacaran. Kau pernah mengatakan bahwa cinta kita harus dihias sekali-sekali agar tak gersang.

Katamu, "Kalau sampai gersang aku takut akan mati."

"Kenapa harus mati jika kita sendiri yang berkehendak untuk menjaga dan mempertahankannya?"

"Tak maukah kau menghiasi ruang hati yang kita isi dengan kebersamaan cinta?"

Ingin kukatakan kepadanya bahwa aku lebih memilih untuk membiarkannya begitu saja. Bukan kutinggalkan prasasti cinta itu. Tentu saja akan kutengok setiap pagi, siang dan malam. Tapi kusenang membiarkan lumut tumbuh subur di sela-sela permukaannya. Kusenang membiarkannya tampak tua.

"Kau tahu kenapa?" kataku kemudian. "Karena kuingin kita melihat cinta kita itu telah tumbuh dewasa. Dengannya menjadi bukti bahwa kita telah memilikinya sejak lama sekali."

Kuingin kita berdua menilainya betapa banyak sejarah yang telah tertoreh dari cinta yang kita miliki. Sejarah untuk kita sendiri. Meski berlumut bahkan mungkin lapuk, tapi tidak dengan ruhnya.

"Tapi lenganmu belum rapuh untuk sekedar merengkuh pinggangku kan? Bahumu belum terlalu lemah untuk menopang kepalaku kan?" Ah...pertanyaanmu lagi.

Kataku, "Baiklah...."

Kuharap hujan segera turun menemani saat ini untuk kita.


04 May 2012

KOTAK AJAIB

Ini bukan sembarang kotak ajaib. Dia ada semenjak tercipta hingga entah sampai kapan selama orang masih punya kuping sebagai indera pendengaran.

Dia ada sejak jaman engkong-nya engkong, jaman kumpeni dan marsose bercokol, jaman Bung Tomo membakar semangat pertempuran, jaman Koes Plus yang masuk bui lantaran musik ngak ngek ngok-nya, jaman kelompencapir hingga jaman Cherybelle dan M. Nazarudin kesandung Wisma Atlet. Ya, setidaknya sampai saat ini.


Baiklah, sekarang kita bicara tentang RADIO, si kotak ajaib yang saya maksudkan tadi.

Ada ungkapan orang bijak yang mengatakan : “ Setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya. “

Masa yang berlalu hanya mengubah teknologi, bentuk, dan orang-orang di dalamnya. Adapun tentang fungsi ? Sami mawon, sama saja. Lalu di manakah ajaibnya ?

Nah, bicara soal ajaibnya kotak bernama radio itu, saya bisa membuat anda tersentak dan menyadari tentang sesuatu. Sabar.... Untuk menuju ke sana saya ingin mengajak anda merenungkan satu hal :

Hal apakah yang harus anda sishkan, sempatkan atau korbankan untuk mendengarkan radio ? Apakah anda perlu menyempatkan waktu tertentu untuk mendengarkan radio ? Apakah anda harus menyapkan ruangan tertentu untuk mencerna siaran radio ? Apakah anda harus meninggalkan aktifitas yang sedang anda jalani ?

Jawabannya : Tidak !

Anda tak perlu melakukan semua itu. Anda bisa melakukan aktifitas apapun untuk mendengarkan radio. Biarkan radio yang menemani anda.

Anda bisa menyimak siaran radio sambil makan, membaca, ngobrol, mengemudi, marah-marah, mandi, atau bahkan tidur dan mungkin –maaf—bercinta . Biarkan radio yang menyuapi anda akan hiburan.

Anda tak perlu memasuki ruangan tertentu untuk mencerna siaran radio. Bebas saja. Bisa di kamar, di ruang tamu, di jalan, di mobil, di kantor, di kafe, atau di mana saja. Biarkan radio yang menyajikan informasi untuk anda.

Radio tak menuntut anda untuk melebarkan mata untuk membaca atau melihat warna-warna visual. Radio tidak meminta anda duduk di satu tempat. Praktis, yang anda perlukan hanyalah telinga ! Itu saja.

Anda menyadari sesuatu ? Bukankah ini ajaib ?

Yang ini lebih ajaib. Anda pasti pernah menyaksikan sebuah video clip. Pasti. Apakah yang anda lihat ? Anda dituntun—atau dituntut—untuk mengikuti visual yang ditayangkan.

Sekarang bandingkan dengan ketika anda mendengarkan lagu lewat radio, dimana sang penyiar mengantarkan untuk menyimak lagu tersebut. Ya... hanya mengantarkan saja. Sebatas itu. Lalu, saat lagu itu diperdengarkan, imajinasi anda sendirilah yang bermain, menggambarkan adegan demi adegan, lengkap denag tekstur, warna dan aroma yang anda buat sendiri dalam benak anda.

Ajaib ! Betul kan ?

Setiap manusia memiliki kesan, suasana hati atau perasaan masing-masing setiap detik yang dijalaninya. Ajaibnya—lagi-lagi—ajaib, radio bisa menemani pendengarnya dalam suasana apapun ketika itu. Tak peduli apakah pendengarnya tengah menangis karena sedih, tersenyum dan tertawa karena bahagia, putus harapan atau optimis, sedang ingin tahu sesuatu, semuanya dapat tersentuh.

Ah, ternyata radio dapat mempengaruhi emosi pendengarnya. Bisa menyemangati saat sedih, atau bahkan ikut berempati akan problema yang di alami pendengarnya. Dalam saat yang sama. Ya, dalam saat yang sama, secara personal, pribadi.

Bukankah seseorang akan merasa tersanjung atau merasa dihargai jika disapa secara pribadi ? Di situlah salah satu kekuatan radio. Meskipun ucapan penyiar didengarkan oleh ratusan bahkan ribuan orang, pendengarnya akan merasa tersentuh secara personal, intim.

Ini juga ajaib bukan ?

Maka penyiar yang benar akan menggunakan sapaan pendengarnya dalm bentuk orang ke-dua tunggal seperti : anda, kamu, elu, ente, ngana, maneh, you,kowe, sampeyan, yeiy dan sebagainya sesuai dengan karakter format radionya (biasa disebut call audience). Dan bukannya : Anda semua, you all atau lainnya yang berkonotasi jamak.

Karenanya, berapa kalikah dalam hidup anda merasa tersentuh karena cuap-cuap penyiar ?

Anda pasti pernah dibuatnya menangis padahal di saat itu juga pendengar lainnya dibuat tertawa, atau sebaliknya. Hanya radio yang bisa begini.


Kawan, penemuan teknologi radio adalah suatu hal yang : brilliant.
Maka, profesionalitas dan keratifitas awak radio juga musti : excelent.
Dan pendengar yang memilih stasiun radio yang baik untuk didengar adalah : amazing.

Nah, dengan berbagai kejaiban itu, apakah radio siaran itu akan ditinggalkan ?

Saya rasa tidak. Karena saya yakin. Haqqul yaqin andapun salah satu dari pendengar radio.

Dengan media lain ? Kita hanya berbagi waktu saja.

Sekali di udara tetap di udara !
Bravo Radio !

01 February 2012

Pulang

Kutahu, suatu saat nanti aku akan pulang.

Hujan masih saja turun dengan derasnya, seperti ditumpahkan begitu saja dari langit. Aku menepikan sepeda motorku ke sebuah halte. Beberapa orang berteduh di bawahnya. Kulirik jam tanganku, jam lima sore.

"Pulang dik....?" tanya seorang bapak yang duduk sambil mengepulkan asap rokoknya di sebelahku. Aku hanya tersenyum. Senyum yang kuyakin terlihat aneh. Aneh, sama anehnya jika kudengar kata "pulang".

Kutepiskan bercak lumpur yang mengotori sepatu boot yang membungkus ujung kakiku hingga ke lutut. Bapak tua itu mengangsurkan bungkus rokoknya kepadaku. Aku mengambilnya sebatang, kunyalakan lalu kuhisap dalam-dalam asap pahitnya, seperti menelan bulat-bulat kegetiranku.

"Saya juga kangen rumah. Anak-anak saya juga pasti sudah menunggu saya pulang." Ah, kata-kata itu lagi. Aku jengah mendengarnya. Namun aku mengangguk, penasaran. Sepertinya bapak ini bisa membaca pikiranku.

"Pasti rumah Bapak hangat." Kataku pada akhirnya.

"Hehehe.... hangat itu di sini dik..." katanya sambil menunjuk ke arah dadanya. "Jiwa kita sendiri yang akan bikin hangat atau dingin apapun yang kita miliki. Percaya sama Bapak, kehangatan itu yang akan membuat kita selalu pulang ke tempat yang sama."

Aku tersenyum kecut. Bukannya aku tak percaya kata-katanya, tapi aku tengah kesulitan untuk memaknai kata "pulang". Beberapa bulan ini aku hanya mengenal kata "singgah". Bagiku pulang itu hanya ke sebuah tempat yang pernah aku miliki. Tempat yang kini hanya secara diam-diam aku rindukan.

"Bapak tahu bagaimana rasanya kehilangan. Tapi adik pasti lebih tahu bagaimana perasaan yang sebenarnya."

"Terimakasih pak. Saya pernah mengucapkan selamat jalan kepada apa yang hilang. Dan saya sedang berusaha untuk melakukan hal yang sama, saat ini, saat kerinduan itu datang lagi."

"Ya ya ya... itu baik sekali."

Aku menghela napas panjang. Di benakku tergambar lagi sudut-sudut ruangan yang pernah kupeluk. Kukenali setiap jengkal lantai dan dindingnya. Dulu, aku selalu nekad menerobos hujan agar lekas sampai ke rumah untuk kemudian kubasuh tubuhku dan menghirup secangkir kopi atau bersembunyi di balik selimut sambil mengeja baris-baris buku yang belum selesai kubaca.

Hujan hanya tinggal menyisakan gerimis. Bapak tua itu menepuk pundakku, "Pulanglah ke tempatmu singgah. Tidur dan bermimpilah tentang tempatmu pulang. Lalu genggam dan kejarlah. Jangan lupa berdoa dan adukan hanya kepada Tuhan." Dengan berlari-lari kecil bapak tua itu menuju kesebuah angkutan kota yang akan membawanya pulang.

"Kamu di mana...?" Suara kecil dari telepon genggamku memanggil dengan nada khawatir, menungguku untuk pulang.

Ya, setidaknya aku masih memiliki tempat pulang yang tak mungkin akan hilang. Seketika hatiku hangat.

Jika benar Tuhan selalu punya rencana terbaik, pada waktu yang tepat pasti aku akan bisa wujudkan mimpiku. Aku beranjak menuju sepeda motorku. Tanpa terasa air mata menetes membasahi wajahku, bercampur dengan rinai gerimis.

Aku tahu, suatu saat nanti aku akan pulang.

21 September 2011

NADA MIMPI

Bagiku kau adalah nada. Nada yang oktafnya terlalu tinggi hingga aku tak dapat menjangkaunya. Tak dapat kuraih meski sekencang apapun aku berteriak. Baiklah, aku tetap akan menyenandungkan nada milikmu , dengan nada yang sama meskipun dalam oktaf yang berbeda. Meskipun dengan begitu aku tetap tak bisa memilikimu, utuh.

Lalu senandungku merayap meniti hembusan angin ke dalam imaji yang melukiskan warnamu dalam benakku. Ada wajahmu yang kukira kukenal dengan sangat dekat. Ada rambutmu yang menggelayut membelai buah dadamu. Ada puting susumu, yang telah menyusui tiga anak, namun bagiku tetap serupa dengan puting susu perawan. Ada pipimu yang terjatuh, tetapi menurutku masih seranum apel seperti layaknya belia. Ada tubuhmu yang mengundangku untuk memberikan pelukan dan dekapan juga gumulan.

“Kau terlalu mahal!” kataku saat itu. Saat angin membawa suara kita.

“Kau pikir kau harus membeliku?”

“Tidak, aku harus membeli jarak. Dan kukira aku tak mampu membayarnya.”

“Hah....” kudengar desahan nafasmu itu. “Lalu kenapa kita tak seranjang saja selamanya?”

Mimpi! Senandungkan nadamu adalah mimpi. Warnamu mimpi. Wajahmu mimpi. Rambutmu mimpi. Payudaramu mimpi. Puting susumu mimpi. Pipimu mimpi. Tubuhmu mimpi. Pelukan, dekapan dan gumulan itupun mimpi. Semua tentangmu itu mimpi.

“Dan kita seranjang bersama adalah mimpi di dalam mimpi.” Kataku pada akhirnya.

“Berarti itu tak mungkin?”

“Entahlah...apakah mungkin ada cinta kedua jika hanya boleh ada satu kebersamaan.”

Kau pernah berkata, akulah kebahagiaanmu sedangkan dia adalah kenyataan. Jika begitu, apakah bahagia itu tak bisa ada dalam kenyataan? Apakah kenyataan itu tak bisa memberikan bahagia? Akupun tak juga bisa menemukan jawabnya.

Yang kutahu, kita harus mensyukuri kenyataan. Tapi kenyataan yang mana? Apakah gejolak hatimu padaku dan gairahku tentangmu bukan kenyataan jika kita berdua merasakanya dengan segenap panca indera?

Ah...tanya, tanya dan tanya! Hanya itu yang selalu ada.

"Baiklah, kita uji saja apakah ini realita atau hanya sekedar lagu impian” kataku kemudian.

“Bagaimana caranya?”

“Apakah semua rasa itu akan tetap terjaga meski kita tak bertegur sapa untuk waktu yang panjang, atau akan terkikis helai demi helai hingga akhirnya habis.” Seperti halnya tetumbuhan yang tak pernah disiram, mungkin dia akan mati. Atau akankah seperti seorang anak yang tak pernah dijenguk orang tuanya, dia masih akan mencari dan tetap mengakui orang-orang yang mengukir jiwa raganya.

"Itu berarti jika kita terjebak menjadi tetumbuhan yang mati kita telah memilih jawaban bahwa kita hanya bermimpi?”

“Ya,... dan bagiku itu bukan jebakan, tetapi pilihan. Membuatnya tetap bersemi, tetap mencari atau memilih untuk berpaling sia-sia.”

“Hemmm... lalu apa lagi?”

“Ketika kita memberi atau berbuat sesuatu untuk salah satu di antara kita, adakah kita merasa telah berkorban atau tidak.”

“Maksudmu?”

“Cinta telah tutup usia jika kita merasa telah berkorban untuk seseorang yang kita cintai. Karena orang akan melakukan apapun untuk cinta, tanpa pamrih dan tanpa merasa perih.”

Malam-malamku sendiri. Sunyi rebah berserakan di beranda, di kamar tidur, di mana-mana seolah menguntitku kemanapun aku beranjak. Ada hampa terhampar di sekelilingku ketika senja mulai menurunkan tirainya. Dan aku berharap kau tak mengalami hal yang sama. Karena aku tak merasa berkorban jikapun kau bermanja dengan semua yang ada dalam rumahmu. Karenanya, aku tak merasa sendiri.

Jangan berharap apapun dengan mimpi kita. Saat ini, mimpi ataupun kenyataan bagi kita tak ada bedanya. Sama saja.

Kita bisa memilih kenyataan, tapi kita tak bisa memesan mimpi, seperti kita tak juga bisa menghindarinya. Maka biar saja mimpi itu terbit, mengembara dalam kamar-kamar jiwa. Dan kita tak bisa membelokkan ke mana arahnya. Kita tak bisa memiliki kendali atasnya.

Mungkin kenyataan antara kita tak masuk logika. Tentu saja, maka tak usah dipikirkan karena inilah mimpi, tapi bukan juga imajinasi.

Teruslah tidur kalau kau mau, biarkan mimpi itu menyunggingkan bibirmu mengulas senyum. Biarkan jiwamu yang menyanyikan nada-nada mimpi. Karena otak saat ini tengah rehat.

Esok hari mentari tetap akan bersinar sekalipun mendung membatasi.